Persaingan pasar motor listrik di Indonesia saat ini semakin ramai dengan banyaknya merek baru yang muncul. Namun jika diperhatikan produsen yang terjun ke segmen ini mayoritas digerakkan oleh merek lokal dan pabrikan asal China. Dari dalam negeri, sejumlah produsen seperti Viar, Gesits, Polytron, Alva, United E-Motor, Selis, hingga Indomobil eMotor terus memperluas jajaran produk dan jaringan penjualan. Di sisi lain, merek-merek China seperti Yadea, Sunra, hingga Keeway juga semakin agresif menawarkan berbagai pilihan motor listrik dengan rentang harga yang kompetitif serta teknologi yang mengikuti zaman. Honda CUV e: di IIMS 2026 Adapun pabrikan Jepang yang selama puluhan tahun mendominasi pasar sepeda motor nasional dinilai belum sepenuhnya serius menggarap segmen kendaraan listrik. Wakil Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Bidang Pengembangan dan Penelitian, Prabowo Kartoleksono, menilai keseriusan merek Jepang untuk masuk ke pasar motor listrik masih menjadi tanda tanya. “Kalau motor Jepang, barangkali saya hanya bisa berkomentar bahwa, are they serious mau masuk ke EV atau enggak?," kata Prabowo menjawab Kompas.com, belum lama ini. “Kalau dia serius, di India sukses tuh mereka. Ya kan? Honda paling sukses di sana, termasuk yang sukses," katanya. Pengemudi sepeda motor berbaris menunggu pembukaan Jalan Kapten Tendean arah Pancoran usai pembongkaran JPO Tendean, Selasa (14/7/2026). Menurut Prabowo, besarnya pangsa pasar yang dimiliki merek Jepang sebenarnya menjadi modal kuat untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Namun, keberhasilan tersebut sangat bergantung pada strategi dan komitmen masing-masing produsen. "Itu tinggal kembali kepada niat mereka. Kalau mereka mau masuk ke sana, sebagai yang terbesar, semua pasti ikut. Tapi ada niat enggak?,” ujarnya. Bakar Uang Ia mencontohkan, pemain baru rela menekan margin keuntungan bahkan “bakar uang” pada tahap awal demi membangun pasar. Strategi serupa dinilai juga perlu dilakukan jika pabrikan Jepang ingin bersaing dengan merek yang sudah lebih dulu agresif. Kawasaki resmi meluncurkan motor listrik Ninja e-1 dan Z e-1 “Sama misalnya saya merek A. Saya masukin, saya enggak usah sebut merek, saya masukin mobil listrik. Saya jual harganya Rp 1,4 miliar. Tapi kompetitor saya jualnya Rp 500 juta. Mobilnya sama, kelasnya sama, semuanya sama," katanya. “Selisih Rp 800 juta lah buat itu. Ada yang mau beli enggak yang Rp 1,4 miliar? Semuanya sama, bahkan ini lebih," ujar Prabowo. “Kembali lagi, sebenarnya niat atau enggak. Terlepas dari kemampuan dia membuat kendaraan dengan cost yang jauh lebih rendah ya, tapi begitu dia masuk market, kalau dia niat kan dia rela untuk bakar duit dulu,” ujarnya. Honda dan Kawasaki Hingga saat ini dari empat merek Jepang di bawah Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (ASISI), baru Honda dan Kawasaki yang telah memasarkan motor listrik di Indonesia. Sisanya ada TVS, tapi itu merek India. Honda menjadi pabrikan Jepang yang paling agresif dengan menghadirkan empat model, yakni EM1 e:, EM1 e: Plus, ICON e:, CUV e:. Suzuki e-Access merupakan produk ramah lingkungan terbaru, siap jadi pilihan konsumen yang mau beralih ke kendaraan listrik. Lini produk tersebut menyasar berbagai kebutuhan, mulai dari skuter komuter hingga model premium. Sementara itu, Kawasaki memilih bermain di segmen motor listrik bergaya sport melalui Ninja e-1 dan Z e-1, yang masing-masing hadir dalam versi full fairing dan naked bike. Berbeda dengan dua merek tersebut, Yamaha hingga kini belum menjual motor listrik secara komersial di Indonesia. Sebelumnya Yamaha hanya melakukan proof of concept (PoC) menggunakan skuter listrik E01 di sejumlah kota untuk mempelajari karakteristik penggunaan kendaraan listrik di Tanah Air. Adapun Suzuki, meski secara global telah memperkenalkan sejumlah model seperti e-Burgman dan e-Access, kedua produk tersebut masih belum masuk ke pasar domestik.