Wacana peluncuran sepeda motor listrik nasional kembali memunculkan pertanyaan besar: apakah Indonesia sudah mampu membuat motor listrik sendiri dari nol tanpa bergantung pada komponen impor? Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai secara ilmiah dan struktural hal tersebut belum realistis untuk diwujudkan dalam jangka pendek. "Secara ilmiah kita perlu jujur secara struktural, sebenarnya asli 100 persen tidak tersedia bagi Indonesia dalam jangka pendek, siapa pun produsennya," ujar Martin, kepada Kompas.com (18/7/2026). Menurut dia, tantangan terbesar bukan pada pembuatan rangka atau perakitan kendaraan, melainkan pada industri komponen inti motor listrik yang hingga kini belum dimiliki Indonesia secara lengkap. Suasana pabrik perakitan motor listrik Polytron Masih Ada Kendala Martin menjelaskan, Indonesia belum memiliki produksi sel baterai format roda dua dalam skala komersial. Selain itu, Indonesia juga belum memproduksi magnet permanen berbasis tanah jarang yang digunakan pada motor penggerak listrik. Kendala lain adalah belum adanya fasilitas fabrikasi semikonduktor daya untuk memproduksi controller motor listrik di dalam negeri. Tanpa tiga komponen strategis tersebut, pengembangan motor listrik murni buatan Indonesia akan sangat sulit dilakukan tanpa ketergantungan pada pemasok luar negeri. Baterai motor listrik Gesits Raya G, yang jadi salah satu contoh baterai litium. Integrasi Dinilai Lebih Realistis Menurutnya, skenario terbaik yang paling realistis saat ini adalah Indonesia menguasai desain kendaraan, pembuatan rangka, integrasi sistem, proses perakitan, serta merek. Sementara itu, komponen seperti sel baterai, magnet permanen, dan perangkat elektronika daya masih harus diimpor. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tetap merupakan capaian penting bagi industri nasional, karena menunjukkan kemampuan Indonesia dalam mengintegrasikan berbagai sistem kendaraan listrik menjadi produk yang siap digunakan. Motor TX3000 "Itu tetap sebuah pencapaian, tetapi harus dinamai dengan tepat: penguasaan integrasi, bukan penguasaan teknologi penuh," kata Martin. Pernyataan ini memberi gambaran bahwa jika pemerintah meluncurkan motor listrik nasional dalam waktu dekat, kemungkinan besar produk tersebut bukan motor yang seluruh teknologinya dikembangkan dari nol di Indonesia. Model yang lebih mungkin adalah kendaraan dengan desain dan integrasi lokal, tetapi masih memanfaatkan sejumlah komponen inti dari luar negeri.