Alva mulai serius menggarap segmen bisnis ke bisnis (B2B) sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mempercepat adopsi motor listrik di Indonesia. Setelah sebelumnya dikenal kuat di pasar ritel atau B2C, kini perusahaan melihat potensi pertumbuhan signifikan dari sektor korporasi dan armada (fleet). CEO Alva, Purbaja Pantja, mengatakan pengalaman sepanjang tahun lalu menjadi titik balik penting dalam mematangkan solusi kendaraan listrik untuk kebutuhan bisnis. Berbagai uji coba dan implementasi di lapangan disebut memberi validasi terhadap kesiapan produk dan ekosistem yang dibangun perusahaan. “Nah jadi kami sebenarnya sangat bangga di tahun lalu bahwa ternyata solusi yang kita berikan kepada B2B client kita itu ternyata ada beberapa yang memang cocok dan bisa kita lakukan karena satu boost charge teknologi kami, kedua motor kami sendiri yang ternyata sangat cocok juga untuk keperluan beberapa B2B client, dan ketiga ekosistem yang kita juga bangun sedemikian terupa buat B2B client yang memerlukan jarak tempuh yang sangat tinggi untuk kepakaian sehari-harinya,” kata Purbaja, belum lama ini. Booth Alva di GIIAS 2025 Menurut dia, pendekatan Alva di segmen B2B bukan sekadar menjual unit kendaraan. Perusahaan menawarkan solusi terintegrasi, mulai dari teknologi pengisian cepat Boost Charge, spesifikasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional, hingga dukungan infrastruktur pengisian daya. “Kita mempunyai juga solusi dalam bentuk charging station ini,” ujarnya. Salah satu implementasi konkret strategi tersebut adalah kolaborasi dengan Grab di Yogyakarta pada November 2025, yang melibatkan hingga 250 unit motor listrik. Kerja sama ini menjadi tonggak penting bagi Alva dalam menguji ketahanan dan efektivitas produknya di operasional harian berintensitas tinggi. “Itu suatu breakthrough buat kita bahwa solusi ini ternyata bisa dipakai juga oleh konsumen kita,” katanya. Tak hanya menyasar sektor transportasi daring, Alva juga merambah perusahaan yang bergerak di bidang people flow business seperti eskalator dan elevator. Menariknya, segmen ini justru memilih lini produk premium. Booth Alva di IIMS 2024 yang memajang Alva One XP “Mereka juga mempunyai keperluan untuk maintenance free, ternyata mereka juga cocok jadi akhirnya mereka memilih malahan motor kita yang premium yaitu Cervo X, bukannya yang N3,” ujar Purbaja. Ekspansi di pasar B2B juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Dash Electric, startup yang fokus pada pengiriman last mile berbasis motor listrik. Dalam proyek ini, Alva turut menggandeng Kalista sebagai penyedia layanan fleet as a service. “Kita bekerjasama untuk menyediakan 500 unit motor N3 kepada Dash juga, jadi pemakaiannya beragam,” ujarnya. Purbaja menilai momentum tersebut menjadi sinyal bahwa transisi ke motor listrik di segmen bisnis kian matang. Selain mendukung aspek keberlanjutan, efisiensi biaya operasional juga menjadi daya tarik utama. “Dengan ini kita merasa bahwa ini memang sudah waktunya nih untuk B2B juga melakukan transisi ke motor listrik karena satu dari segi elemen ESG-nya sudah pasti, kedua elemen mengenai cost savings-nya ternyata kita bisa buktikan,” kata Purbaja. Meski pada 2025 penjualan Alva masih didominasi B2C, perusahaan optimistis kontribusi B2B akan terus meningkat. Bahkan, klien yang digarap di segmen ini disebut berasal dari perusahaan berskala besar. “Kalau tahun lalu memang masih banyak B2C-nya, tapi kalau kami cerita B2B, kami ceritakan customer-nya yang besar-besar,” katanya. Adapun terkait target kontribusi B2B secara persentase, Alva belum bersedia membeberkan secara rinci. Namun secara organisasi, perusahaan telah memisahkan struktur tim untuk masing-masing segmen. “Kita belum bisa share, tapi secara tim, kita itu sudah mempunyai dua tim terpisah untuk tim B2B dan juga tim B2C,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang