Pemerintah Indonesia semakin gencar mendorong penggunaan Kendaraan Listrik (EV) sebagai solusi utama untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi energi nasional. Berbagai kebijakan pun telah dirancang untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di tengah masyarakat. Insentif pajak dan subsidi pembelian kendaraan berbasis baterai menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan. Infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) juga terus disiapkan seiring dengan masuknya pendatang baru dari jenama otomotif yang membawa produk kendaraan listrik mereka. Dominasi Pasar EV dan Pergeseran Citra Saat ini, pabrikan asal China terlihat paling mendominasi pasar kendaraan listrik di Indonesia. Astra Infra mempersiapkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh rest area sepanjang ruas Cipali dan Tangerang-Merak sebagai langkah mitigasi kemacetan di titik-titik lelah. Terlebih, produk kendaraan listrik yang mereka tawarkan dibanderol dengan harga yang cukup bersahabat. Citra mobil listrik yang semula dikenal sebagai kendaraan mewah dan mahal kini bergeser menjadi kendaraan yang terjangkau bagi semua kalangan masyarakat. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) dari pabrik ke diler (wholesales) telah mencapai 103.931 unit sepanjang 2025. Angka penjualan tersebut didominasi oleh mobil listrik buatan pabrikan asal China. Pabrik mesin Toyota di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kondisi ini turut membuat merek otomotif Jepang yang sudah lebih lama menguasai pasar Indonesia mulai tergeser. Pasalnya, belum ada satu pun produk otomotif buatan Jepang yang secara serius memasarkan kendaraan listrik murni. Transformasi EV Secara Masif Dorongan masif terhadap penggunaan kendaraan listrik juga ditegaskan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam pidatonya di Forum Bisnis Indonesia-Jepang. Toyota Yaris Cross G Hybrid Forum tersebut digelar di Imperial Hotel, Tokyo, pada Senin (30/3/2026). “Kami ingin memperluas semua upaya di sektor ini, maka itulah kami akan bergerak secara besar-besaran ke kendaraan listrik dan sepeda motor listrik,” ujarnya, dikutip dari keterangan resmi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, Senin (31/3/2026). Prabowo menyebutkan bahwa saat ini terdapat 114 juta sepeda motor yang masih menggunakan bahan bakar bensin di Tanah Air. Oleh karena itu, diharapkan terjadi transformasi cepat dalam penggunaan kendaraan listrik. Menurutnya, percepatan adopsi kendaraan listrik tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga akan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu. Maka dari itu, transformasi kendaraan listrik menjadi salah satu prioritas utama pemerintah Indonesia saat ini. “Dengan percepatan transformasi ini, kami merasa memiliki pertahanan yang kuat terhadap ketidakpastian pasokan global,” katanya. Sementara itu, belum lama ini Prabowo juga sempat menyatakan akan mengkonversi semua jenis kendaraan menjadi tenaga listrik. Mulai dari sepeda motor, mobil, truk, hingga traktor, semuanya diharapkan akan berbasis listrik. Sedangkan kendaraan dengan bahan bakar bensin nantinya hanya akan diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke atas. Strategi Hybrid Pabrikan Jepang Membicarakan pabrikan otomotif asal Jepang di Indonesia, nama-nama seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. merek tersebut cenderung lebih memilih teknologi hybrid untuk menjalankan program elektrifikasi yang dicanangkan pemerintah. Hal ini terlihat dari fakta bahwa merek-merek tersebut saat ini lebih dulu menjual mobil hybrid dibandingkan mobil listrik murni. Sebagai contoh, Toyota memasarkan Innova Zenix Hybrid, Yaris Cross Hybrid, dan Vellfire Hybrid. Contoh lain, Suzuki saat ini memiliki tiga model hybrid untuk pasar Indonesia, yaitu Ertiga Hybrid, XL7 Hybrid, dan Grand Vitara. Suzuki Ertiga di GIIAS 2025 Bahkan, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) juga meluncurkan varian baru dari Ertiga, yaitu All New Ertiga Hybrid Cruise. Pengamat otomotif sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, turut memberikan tanggapan terkait kondisi pasar ini. Menurut Yannes, posisi tawar Indonesia dalam peta industri otomotif saat ini sedang berada di titik yang sangat strategis, terutama dengan dominasi pabrikan China di segmen EV murah. Sebut saja misalnya produk-produk yang ditawarkan oleh BYD dan Wuling. “Pada dasarnya, ini menjadi cambuk paling efektif untuk menekan Jepang agar bergerak lebih cepat. Pemerintah terlihat memainkan pendekatan geoekonomi yang cukup cerdas, yakni memanfaatkan agresivitas investasi dan harga yang kompetitif dari China untuk memaksa Jepang melakukan lompatan teknologi, termasuk potensi transfer teknologi inti baterai generasi baru atau menghadirkan lini produk yang lebih kompetitif di Indonesia,” katanya kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026). Yannes menjelaskan, dalam konteks ini, pasar Indonesia yang besar bukan sekadar konsumen, melainkan juga alat negosiasi untuk menciptakan simbiosis antara skala pasar domestik dan keunggulan teknologi Jepang. Namun, di sisi lain, menurutnya ada kelemahan struktural yang tidak bisa diabaikan. Kelemahan tersebut adalah dominasi merek Jepang selama puluhan tahun yang membuat mereka memiliki investasi besar yang sudah tertanam dalam ekosistem kendaraan Internal Combustion Engine (ICE) konvensional. Pabrik, rantai pasok, hingga ribuan vendor lokal dibangun khusus untuk mesin pembakaran internal, sehingga transisi mendadak ke EV bukan hanya soal teknologi, tetapi juga berisiko menghancurkan fondasi industri yang sudah berjalan lebih dari 40 tahun tersebut. “Inilah alasan mengapa pemain seperti Toyota dan Honda cenderung mempertahankan hybrid sebagai strategi transisi, bukan karena tertinggal, tetapi karena mereka harus menjaga keberlanjutan ekosistem industri ICE based dan tenaga kerja yang ada,” kata Yannes. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang