PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) Industri kendaraan niaga nasional tengah berada di persimpangan penting. Di satu sisi, kebutuhan transportasi dan logistik terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Namun di sisi lain, derasnya arus truk impor, khususnya dari China, memberi tekanan besar bagi industri manufaktur dalam negeri. Dalam situasi ini, komitmen produsen terhadap penguatan produksi lokal dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi krusial untuk menjaga keberlanjutan ekosistem industri nasional.Sebagai salah satu yang telah hadir lebih dari empat dekade di Indonesia, Hino menegaskan posisinya untuk tetap memperkuat basis manufaktur dalam negeri. Melalui PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), perusahaan mengoperasikan fasilitas produksi terintegrasi di Purwakarta dengan luas area mencapai 296.000 meter persegi dan luas bangunan lebih dari 169.000 meter persegi. Pabrik ini didukung oleh 1.548 tenaga kerja dan memiliki kapasitas produksi terpasang hingga 75.000 unit per tahun, mencakup segmen light duty truck, medium duty truck, hingga bus.Direktur PT HMMI, Harianto Sariyan, menegaskan bahwa investasi besar tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun industri otomotif nasional yang kuat dan berdaya saing. “TKDN produk Hino sudah di atas 40% dan ditambah Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) 14,10%. Ini bagian dari strategi jangka panjang kami untuk mendorong pemanfaatan komponen lokal dan penguatan supplier dalam negeri,” ujar Harianto di di Purwakarta pada Rabu, 21 Januari 2026. Namun demikian, tantangan industri semakin nyata dengan maraknya truk impor yang masuk ke pasar domestik. Tekanan tersebut tercermin pada tingkat utilisasi pabrik. Menurut Harianto, pemanfaatan kapasitas produksi Hino rata-rata berada di kisaran 35%–40% per tahun, bahkan turun hingga sekitar 25% pada 2025, yang dinilai sebagai periode paling berat bagi industri kendaraan niaga. “Kalau impor itu cukup dengan satu kantor dan puluhan karyawan bisa mendatangkan belasan ribu unit setahun. Sementara industri manufaktur melibatkan ribuan pekerja dan rantai pasok panjang. Ini tantangan serius bagi industri nasional,” katanya.Dari sisi pasar, kondisi tersebut juga disoroti oleh Supply Chain, Marketing & Communication Division Head HMSI, Wibowo Santoso. Ia menyebut volume truk China yang masuk ke Indonesia pada 2025 hampir setara dengan jumlah truk yang diproduksi Hino pada tahun yang sama. Wibowo menilai terdapat ketimpangan perlakuan fiskal antara produk impor dan produk hasil manufaktur lokal. “Produk impor bisa masuk dengan beban biaya yang jauh lebih ringan, sementara kami membeli baja saja dikenakan bea masuk 5%–10%. Ini tentu membuat produk lokal tertekan,” ujarnya.Hino telah menyampaikan kondisi tersebut kepada Kementerian Perindustrian. Pemerintah disebut tengah mengkaji kebijakan untuk menjaga keseimbangan antara iklim persaingan yang sehat dan keberlangsungan industri manufaktur nasional. Meski menghadapi tekanan, Hino menegaskan tetap terbuka terhadap persaingan global. Namun perusahaan berharap adanya diferensiasi kebijakan agar industri lokal tidak semakin tergerus. “Persaingan itu wajar. Tapi kalau beban regulasi dan biaya hanya ditanggung produk lokal, industri bisa berhenti. Padahal bukan hanya Hino, ada ratusan ribu tenaga kerja di rantai pasok yang bergantung pada sektor ini,” kata Wibowo.Komitmen Hino terhadap Indonesia tidak hanya tercermin dari sektor produksi, tetapi juga dari pengembangan ekosistem pendukung. Pada Januari 2022, perusahaan meresmikan Hino Total Support Customer Center (HTSCC) di Purwakarta sebagai pusat pelatihan dan pengembangan kompetensi pengemudi serta teknisi. Fasilitas ini dilengkapi area pelatihan mengemudi seluas 24.000 meter persegi, lintasan uji sepanjang 800 meter, simulator, hingga modul keselamatan berkendara. Melalui Hino Indonesia Academy dengan trainer bersertifikasi BNSP, Hino mendorong peningkatan keselamatan dan efisiensi operasional pelanggan.“Selama lebih dari empat dekade, Hino terus berinvestasi dan tumbuh bersama Indonesia. Melalui Hino Total Support Customer Center (HTSCC), kami memperkuat komitmen Total Support dengan menghadirkan pusat pelatihan pengemudi dan pengembangan sumber daya manusia yang berfokus pada keselamatan, peningkatan kompetensi, dan efisiensi operasional. HTSCC menjadi bagian penting dalam mewujudkan transportasi yang aman untuk masyarakat Indonesia sesuai dengan misi Hino,” ujar Pieter Andre, Training Division Head HMSI.Selain melayani pasar domestik, Hino Indonesia juga berperan sebagai basis ekspor. Sejak 2011, kendaraan dan komponen buatan Indonesia telah dikirim ke berbagai negara seperti Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, hingga Jepang. Ke depan, meski proyeksi pasar kendaraan niaga 2026 diperkirakan stagnan atau sedikit menurun akibat pelemahan sektor tambang, Hino menegaskan komitmennya untuk terus berinvestasi dan memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada industri manufaktur nasional di tengah gempuran impor truk China.