PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), mengungkapkan produsen truk kini menghadapi fenomena pukulan ganda yang mengancam keberlangsungan industri lokal.Hino blak-blakan menyebut bisnis truk di sektor tambang sedang mengalami kemerosotan tajam akibat kombinasi pasar yang lesu dan gempuran produk impor asal China."Saat ini kalau kami melihat data, kondisi bisnis tambang ini lagi slow down banget," kata Supply Chain and Marketing Communication (SCMC) Division Head PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Wibowo Santoso di Jakarta, belum lama ini. "Jadi kita bilang double hit, double jap. Sudah market slow down, permintaannya makin kecil, dihantam lagi produk import," tambah dia.Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Sebagaimana diketahui, produsen otomotif Jepang termasuk Hino telah mengucurkan investasi hingga triliunan rupiah untuk memperbarui lini produksi mereka di Indonesia. Langkah besar ini dilakukan demi mematuhi regulasi pemerintah terkait standar emisi Euro 4 yang mulai diwajibkan sejak April 2022.Tapi investasi besar tersebut justru dibayangi oleh ketimpangan di lapangan. Truk impor dari China dilaporkan dapat melenggang masuk ke pasar domestik tanpa harus memenuhi persyaratan teknis yang sama ketatnya. Banyak unit impor yang diduga masih menggunakan standar emisi di bawah Euro 4, namun tetap bisa beroperasi di area pertambangan."Pasti ada efeknya. Satu standar emisi, kemudian tax masuk itu. Kalau enggak salah mereka hampir enggak dapat tax. Itu yang cukup memukul adalah produk dari tax enggak ada, emisi," tegas Wibowo."Kemarin yang dikeluhkan standar emisinya berbeda, dan lain-lainnya. Buat kami yang produsen nasional double hit, market-nya lagi shrinking banget, lagi lemah," jelas dia.Kondisi ini menciptakan jurang persaingan yang tidak sehat (unfair advantage). Dengan beban pajak yang minim dan tanpa kewajiban teknologi emisi tinggi, produk impor China mampu menawarkan harga jual yang jauh lebih kompetitif dibandingkan truk produksi lokal yang harus mematuhi segudang regulasi.Wibowo juga menyoroti dampak domino yang menghantam industri pendukung. Karena truk impor sering kali masuk dalam kondisi utuh, potensi penyerapan tenaga kerja lokal dan keterlibatan industri karoseri nasional menjadi hilang."Mereka produksi di sana, tidak pakai tenaga lokal. Bukan cuma truknya saja, termasuk karoserinya yang bikin bodinya kena juga, impact besar juga," pungkasnya.