Penjualan mobil Low Cost Green Car (LCGC) anjlok. Namun sepeda motor makin digemari masyarakat Indonesia. Benarkah orang menunda beli LCGC karena daya beli, lalu memilih motor sebagai solusi mobilitas yang lebih terjangkau?Direktur Pemasaran PT Astra Honda Motor (AHM), Octavianus Dwi Putro menyebut mobilitas antara mobil dan motor tidak serta-merta bisa saling menggantikan karena keduanya memiliki fungsi mendasar yang sangat kontras."Beli motor, mobil ada beberapa, kebutuhan mobilitas itu apa, tidak semudah itu mobilitasnya digantikan, karena fungsinya berbeda," kata Octa di Jakarta Pusat, belum lama ini. Dia melanjutkan fenomena yang lebih masuk akal adalah penundaan pembelian kendaraan roda empat yang dibarengi dengan penambahan unit roda dua di garasi. "Kalau menunda beli yang atas, nambah di rumahnya motor, mungkin itu make sense," kata Octa.Octa menjelaskan profil pembeli motor matic kelas atas mayoritas bukanlah "mantan" calon pembeli mobil. Sebagian besar dari mereka adalah konsumen yang melakukan upgrade dari motor berkapasitas kecil, atau memang sengaja menambah unit kendaraan di rumah. Misalnya, konsumen yang sudah memiliki Honda BeAT di rumahnya cenderung memilih PCX atau Stylo sebagai kendaraan berikutnya untuk mendapatkan kenyamanan lebih.Irisan antara calon pembeli mobil LCGC dengan pembeli motor premium diakui memang ada, namun jumlahnya tidak signifikan."Orang beli LCGC itu macam-macam, ada yang memang untuk private use, ada yang untuk productive use, pertanyaannya yang banyak hilang yang mana," kata Octa."Pembeli PCX, anggap saja di AT High, itu ketika kita tanya, dia bukan eks mobil juga. Mungkin ada yang beririsan tapi nggak banyak," tambahnya lagi."Nambah (unit), kalau di rumahnya sudah ada BeAT, beli motor berikutnya kira-kira apa, PCX atau Stylo," jelas dia.Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) sempat memproyeksikan penjualan sepeda motor domestik akan berada di kisaran angka 6,4 juta unit hingga 6,7 juta unit, dan akhirnya tahun 2025 ini ditutup di angka 6.412.769 unit.Berdasarkan data wholesales Gaikindo, LCGC hanya terdistribusi sebanyak 122.686 unit pada sepanjang 2025, minus 31 persen dibanding 2024. Padahal di kuartal pertama 2025, mobil murah ini sempat berjaya dengan rata-rata pengiriman di atas 12 ribu unit per bulan. Namun memasuki kuartal kedua hingga akhir tahun, distribusinya merosot di angka 8-9 ribuan unit saja.Menariknya ada fenomena ekonomi subtitusi. Sederhananya, ketika dompet sedang cekak, orang tidak berhenti bergerak, melainkan mencari alternatif yang paling masuk akal."Tahun lalu diwarnai penurunan daya beli terutama di masyarakat ekonomi menengah dan mereka memilih membeli sepeda motor untuk menopang kegiatan ekonomi produktif mereka. Ini juga membuat market tahun lalu tetap tumbuh meski tidak besar," kata Ketua Bidang Komersial AISI Sigit Kumala.Pengamat otomotif Yannes Pasaribu mengatakan, situasi ekonomi yang tidak stabil membuat banyak calon pembeli menunda membeli mobil pertama. Segmen LCGC yang menyasar pembeli baru menjadi paling terdampak karena mereka sangat sensitif terhadap kenaikan harga dan suku bunga kredit."Penurunan daya beli masyarakat karena inflasi dan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang mempengaruhi penjualan mobil saat ini Mas. Penurunan daya beli masyarakat karena inflasi dan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang mempengaruhi penjualan mobil, selain itu, kenaikan harga segmen terbesar LCGC juga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen," ujar Pengamat Otomotif, Yannes Pasaribu.