New Daihatsu Sigra diuji jalan di Bandung, Jawa Barat. Ekonom sekaligus Chief Economist Bank Permata, Joshua Pardede, mengatakan pasar otomotif Indonesia saat ini masih sangat sensitif terhadap perubahan harga, terutama di segmen kendaraan massal yang banyak dibeli konsumen kelas menengah dan pembeli pertama. GULIR UNTUK LANJUT BACA Menurut dia, pelemahan rupiah hingga tembus Rp17.500 per dolar AS memang belum langsung membuat harga mobil naik drastis. Namun jika kondisi tersebut berlangsung lama, tekanan biaya produksi akan sulit dihindari dan pada akhirnya masuk ke harga jual kendaraan.“Jika pelemahan rupiah memaksa kenaikan harga mobil beberapa juta hingga belasan juta rupiah, segmen pembeli pertama, kelas menengah, mobil murah, dan pembelian berbasis kredit akan paling cepat terdampak,” ujar Joshua kepada VIVA, Rabu 13 Mei 2026.Ia menjelaskan, kendaraan entry level memiliki karakter pasar yang berbeda dibanding segmen premium. Konsumen mobil murah biasanya sangat memperhatikan besaran uang muka, cicilan bulanan, hingga selisih harga beberapa juta rupiah antar model.Karena itu, kenaikan harga kecil sekalipun bisa langsung memengaruhi keputusan pembelian.Joshua menilai tekanan tersebut datang di saat kondisi pasar otomotif nasional belum sepenuhnya kuat. Penjualan kendaraan memang masih berjalan, tetapi daya beli masyarakat belum pulih optimal.Data GAIKINDO periode Januari hingga April 2026 menunjukkan pasar otomotif masih bergerak, tetapi belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga besar tanpa risiko perlambatan permintaan.Di sisi lain, penjualan ritel nasional juga masih mengalami kontraksi tahunan sebesar 1,9 persen pada April 2026. Kondisi ini menunjukkan konsumsi masyarakat masih berada dalam tekanan.Menurut Joshua, tantangan industri otomotif saat ini bukan hanya kurs rupiah. Harga minyak dunia yang masih tinggi akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah turut menambah beban biaya logistik dan distribusi.Kondisi tersebut membuat biaya produksi kendaraan meningkat, terutama karena industri otomotif Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen impor dan bahan baku berbasis dolar AS.Komponen tersebut mencakup logam, plastik, elektronik, mesin, hingga berbagai suku cadang kendaraan.Meski demikian, Joshua menilai produsen dan dealer kemungkinan belum akan langsung menaikkan harga secara agresif. Saat ini pelaku industri masih mencoba menahan pasar melalui promosi, diskon, dan pemanfaatan stok lama.“Produsen dan dealer biasanya masih memiliki stok lama, strategi diskon, promosi, dan kemampuan menahan sebagian kenaikan biaya dengan mengurangi selisih keuntungan,” katanya.Namun, strategi tersebut dinilai hanya bersifat sementara. Jika rupiah bertahan lemah dalam jangka panjang, tekanan biaya akan semakin sulit ditahan.Kondisi itu juga diperberat oleh kebijakan suku bunga yang masih relatif tinggi. Bank Indonesia pada April 2026 mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen dengan fokus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.Artinya, konsumen bukan hanya menghadapi risiko kenaikan harga kendaraan, tetapi juga cicilan kredit yang belum tentu menjadi lebih ringan. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Joshua mengingatkan, apabila tekanan ini terus berlanjut, dampaknya bisa melebar ke industri otomotif secara keseluruhan. Produsen dapat menghadapi penurunan permintaan, pengurangan produksi, hingga penundaan peluncuran model baru.“Jika permintaan melemah, pabrikan dapat mengurangi produksi, menunda peluncuran model baru, atau menahan investasi,” ujar Joshua.