Mantan bos tim Formula 1 (F1) Red Bull Racing, Christian Horner, dilaporkan tengah menjajaki pembicaraan serius untuk memimpin langkah raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD, menembus grid balap jet darat tersebut. Pria asal Inggris itu sebelumnya didepak dari posisinya di Red Bull pada pertengahan musim 2025. Keputusan tersebut diambil setelah periode penuh gejolak yang melibatkan tuduhan perilaku tidak pantas, serta kemerosotan performa tim di lintasan. Kini, seiring dengan berakhirnya masa klausul non-kompetisi dalam kontrak lamanya dengan Red Bull, Horner dipastikan sudah mengantongi lampu hijau untuk kembali beraktivitas di dalam paddock F1. BYD akan masuk ke Formula 1 (F1) Rumor Alpine hingga Pendekatan BYD Sebelumnya, nama Horner sempat dikaitkan dengan rencana pembelian saham di tim Alpine. Namun, rumor tersebut meredup setelah Mercedes kabarnya turut campur dalam perebutan 24 persen saham tim asal Perancis itu. Dikutip dari The-Race.com, Senin (25/5/2026, Horner kini mengalihkan fokusnya dan telah melakukan pembicaraan dengan BYD. Sinyal ini makin kuat setelah dirinya terlihat menghadiri Festival Film Cannes baru-baru ini. Sebelumnya, Horner juga sempat mencuri perhatian publik setelah kedapatan mengunjungi paddock MotoGP di Sirkuit Jerez, Spanyol, serta gelaran Formula E di Monako yang waktunya bersamaan dengan agenda di Cannes. Opsi BYD Masuk Grid F1 Sebagai raksasa kendaraan listrik dunia, BYD dilaporkan sedang mempertimbangkan dua opsi strategis untuk masuk ke F1. Opsi pertama adalah mendaftar sebagai tim ke-12 yang sepenuhnya baru mandiri, atau opsi kedua melalui akuisisi tim yang sudah ada saat ini. Christian Horner, mantan bos tim Formula 1 (F1) Red Bull Racing Di sisi lain, ambisi Horner untuk kembali ke F1 disebut-sebut tidak main-main. Ia kabarnya mengincar kepemilikan saham finansial di dalam tim, atau setidaknya memegang kendali penuh atas regulasi tim seperti yang pernah ia nikmati selama masa kejayaannya di Red Bull. Meski demikian, lini masa mengenai kapan BYD resmi meluncur di F1 masih abu-abu. Pabrikan asal Tiongkok tersebut harus melewati proses pendaftaran resmi FIA jika kompetisi kembali membuka slot untuk tim baru. Selain itu, belum diketahui secara pasti bagaimana rencana regulasi baru F1 pada 2031, yang kabarnya akan mengembalikan mesin V8 dan mengurangi porsi elektrifikasi, bakal memengaruhi cetak biru dari strategi global BYD. Respons FIA dan BYD Kendati prosesnya masih panjang, potensi masuknya pabrikan Tiongkok ke F1 mendapat sinyal positif dari otoritas tertinggi balap dunia. Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, sempat memberikan pandangannya tahun lalu. “Jika ada pabrikan Tiongkok yang tertarik, dan saya akan berbicara atas nama FOM, mereka akan menyetujuinya, karena ini tentang mempertahankan bisnis," ujar Ben Sulayem. “Jika ada pabrikan dari Tiongkok, katakanlah, dan FOM menyetujuinya, dan saya 100% yakin mereka akan menyetujuinya, bukankah akan menghasilkan lebih banyak uang dengan masuknya Tiongkok? Saya percaya, ya,” katanya. Sinyal ketertarikan ini pun diperkuat oleh pernyataan dari internal pabrikan. Executive Vice President BYD, Stella Li, baru-baru ini menyampaikan ketertarikannya kepada SportMediaset. “Saya menyukai Formula 1 karena ini tentang gairah, cultura, dan orang-orang bermimpi untuk berada di Formula 1, ini adalah sesuatu yang sedang kami diskusikan. Ini adalah kesempatan nyata untuk menguji teknologi kami,” kata Stella. Langkah BYD ini sewajarnya tidak mengejutkan. Pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) Tiongkok tengah mengalami lonjakan masif dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini bahkan membuat sejumlah pabrikan barat menghadapi tekanan finansial akibat derasnya permintaan mobil listrik dan hibrida (hybrid) murah dari Tiongkok. Popularitas F1 yang terus meroket secara global menjadikannya magnet yang sangat seksi bagi pabrikan otomotif. Terbukti, nama-nama besar seperti Honda, Audi, hingga Ford sudah memastikan diri untuk ambil bagian dalam kompetisi musim ini. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang