Pemantauan arus mudik dan balik Lebaran 2026 bakal semakin canggih, sebab Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyiapkan pengawasan berbasis teknologi udara. Kali ini, kepolisian siap mengerahkan pesawat nirawak Vertical Take-Off and Landing Unmanned Aerial Vehicle (VTOL UAV) serta ETLE Drone untuk memastikan kelancaran perjalanan pemudik, khususnya di Tol Fungsional Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi). Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho, mengatakan bahwa teknologi udara akan menjadi tulang punggung pemantauan selama Operasi Ketupat 2026. Situasi terkini arus lalu lintas di Exit Tol Bocimi Parungkuda Sukabumi, Selasa (1/4/2025) VTOL UAV adalah jenis pesawat tanpa awak yang mampu lepas landas, melayang, dan mendarat secara vertikal (tegak lurus) seperti helikopter, namun dapat terbang maju seperti pesawat sayap tetap (fixed-wing). Teknologi ini menggabungkan fleksibilitas drone multicopter dengan efisiensi jarak jauh fixed-wing, menghilangkan kebutuhan akan landasan pacu panjang. “Pengendalian arus akan kami perkuat dengan teknologi, menggunakan VTOL (UAV) dan ETLE Drone yang dapat memantau sepanjang jalur tol maupun arteri,” ujar Agus, dalam keterangan tertulis, Kamis (19/2/2026). Penggunaan VTOL UAV memungkinkan pemantauan dari udara secara real time, termasuk di ruas-ruas strategis seperti tol fungsional Bocimi yang menghubungkan Parungkuda hingga Karangtengah. Dengan kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal, pesawat tanpa awak ini dinilai efektif untuk memantau titik-titik rawan kemacetan maupun kepadatan kendaraan. Tol Bocimi kembali difungsikan pada Kamis (11/4/2024). Sementara itu, ETLE Drone tidak hanya memantau arus lalu lintas, tetapi juga berfungsi mendukung penegakan hukum berbasis elektronik. Dengan jangkauan udara yang luas, pelanggaran lalu lintas bisa terdeteksi lebih cepat tanpa harus menempatkan banyak personel di lapangan. Data yang dikumpulkan dari udara nantinya akan menjadi dasar penentuan pola rekayasa lalu lintas secara situasional. Direktorat Lalu lintas (Ditlantas) Polda Jawa Tengah mencatat sekitar 30 pelanggaran setelah pihaknya menerbangkan drone. Rekayasa tersebut mencakup pemecahan arus kendaraan dari Jakarta menuju Sukabumi maupun dari Sukabumi menuju Bogor, baik melalui tol fungsional maupun jalur arteri untuk mencegah penumpukan kendaraan di satu titik. “Arus yang dari Jakarta menuju ke Sukabumi atau Bogor dari Sukabumi nanti akan kita pecah. Bisa melalui Tol fungsional dan bisa juga melalui Arteri,” ucap Agus. “Dan ini sangat strategis sekali, termasuk juga apabila dimungkinkan pada saat arus balik Tol fungsional akan kita berlakukan,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang