Sepeda motor masih menjadi salah satu moda transportasi yang banyak dipilih masyarakat saat mudik Lebaran. Selain dianggap lebih hemat dan fleksibel saat menghadapi kemacetan, kendaraan roda dua juga dianggap praktis untuk perjalanan antarkota. Namun di balik itu, perjalanan jarak jauh menggunakan sepeda motor memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan oleh para pemudik. Menurut Victor Assani, Ketua Bidang Road Safety and Motorsport Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penggunaan sepeda motor untuk mudik sebenarnya bukan dilarang, melainkan lebih kepada imbauan agar masyarakat mempertimbangkan aspek keselamatan. "Sepeda motor adalah kendaraan ringan yang memang tidak didesain untuk operasional jarak jauh, sementara yang namanya mudik itu identik dengan perjalanan jauh," kata Victor kepada Kompas.com, Selasa (10/3/2026). Victor menjelaskan, salah satu risiko utama berasal dari kondisi sepeda motor yang harus berbagi jalan dengan kendaraan berdimensi besar di jalur nasional. Dalam situasi tersebut, pengendara motor memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi. "Di jalan raya sepeda motor biasanya harus berhadapan dengan kendaraan-kendaraan besar. Hal ini meningkatkan risiko karena pengendara harus berkompetisi dengan kendaraan yang dimensinya lebih besar, kecepatannya lebih tinggi, termasuk efek hembusan angin dari kendaraan besar," ujarnya. Pemudik dengan sepeda motor antre naik ke kapal di dermaga 3 Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Lampung, Kamis (5/5/2022). Kementerian Perhubungan memperkirakan puncak arus balik Lebaran 2022 akan terjadi pada 6-8 Mei 2022. Selain faktor lalu lintas, desain sepeda motor yang terbuka juga menjadi tantangan tersendiri untuk perjalanan jarak jauh. Berbeda dengan mobil yang memberikan perlindungan lebih bagi penumpangnya, pengendara motor harus menghadapi langsung paparan angin, polusi, panas matahari, hingga hujan. Kondisi tersebut, menurut Victor, tidak hanya mengganggu kenyamanan tetapi juga dapat memengaruhi konsentrasi berkendara jika berlangsung dalam waktu lama. "Kendaraan roda dua membuat pengendara terpapar langsung angin, polusi, sinar matahari sampai hujan. Jika dilakukan dalam perjalanan panjang, kondisi ini bisa mengganggu konsentrasi dan meningkatkan risiko terhadap kesehatan," kata dia. Faktor kelelahan juga menjadi perhatian penting dalam perjalanan jarak jauh menggunakan sepeda motor. Jarak tempuh yang panjang membuat pengendara lebih cepat lelah sehingga konsentrasi dapat menurun. Di sisi lain, persoalan muatan berlebih juga sering terjadi saat musim mudik. Tidak jarang sepeda motor membawa barang bawaan yang melebihi kapasitas, bahkan hingga membuat dimensi kendaraan menjadi tidak ideal. Padahal kondisi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan kendaraan, terlebih ketika jalanan sedang ramai pada puncak arus mudik Lebaran. Untuk mengurangi risiko tersebut, Victor menyarankan masyarakat memanfaatkan program mudik gratis yang diselenggarakan berbagai lembaga, perusahaan, maupun produsen sepeda motor. Dalam program tersebut, pemudik biasanya diangkut menggunakan bus menuju daerah tujuan, sementara sepeda motor mereka dikirim menggunakan angkutan barang. "Kalau memungkinkan, masyarakat bisa memanfaatkan program mudik gratis yang disediakan berbagai pihak. Penumpang diangkut menggunakan bus, sementara sepeda motor dikirim menggunakan angkutan barang," ujarnya. Namun jika tetap memilih mudik menggunakan sepeda motor, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pengendara disarankan memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima dengan melakukan servis terlebih dahulu di bengkel resmi. Selain itu, pengendara juga perlu memastikan kondisi fisik dalam keadaan fit, menghindari membawa muatan berlebih, serta tidak memaksakan diri berkendara tanpa istirahat yang cukup. Victor juga mengingatkan pemudik untuk memanfaatkan berbagai fasilitas peristirahatan di jalur mudik, seperti posko istirahat maupun bengkel siaga Lebaran yang biasanya tersebar di berbagai titik perjalanan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang