JAKARTA, KOMPAS.com – Mudik Lebaran dengan mobil listrik kini bukan lagi hal asing. Populasinya terus bertambah, begitu juga dengan infrastruktur pendukung seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Namun, perjalanan jarak jauh dengan mobil listrik tetap butuh perencanaan matang, terutama soal pengisian daya. Pemilik bengkel spesialis Dokter Mobil di Jakarta, Lung Lung, mengatakan pemudik harus benar-benar memperhatikan lokasi SPKLU di sepanjang rute perjalanan. “SPKLU itu harus dicek ada di mana saja. Namanya mudik, kita tidak pernah bisa prediksi macetnya di mana dan berapa lama. Yang paling kita takutkan itu kalau terjebak macet, belum sampai SPKLU baterainya sudah mau habis. Begitu sampai, ternyata antreannya berjam-jam,” ujar Lung Lung, kepada Kompas.com, Rabu (3/2/2026). Menurut dia, pengemudi mobil listrik tidak bisa sekadar mengandalkan satu titik pengisian daya. Perlu ada opsi cadangan apabila kondisi di lapangan tidak sesuai rencana. Ilustrasi SPKLU mobil listrik di Tol Trans Jawa “Jadi harus dicari SPKLU yang benar dan pastikan juga jarak tempuhnya masih masuk akal untuk sampai ke SPKLU tersebut,” katanya. Hal senada disampaikan Iqbal Taufiqurrahman, Product Planning and Strategy GAC Indonesia. Ia menekankan bahwa perencanaan rute menjadi faktor krusial saat melakukan perjalanan jauh dengan mobil listrik. “Pengguna bisa memanfaatkan aplikasi seperti PLN Mobile, Google Maps, dan platform sejenis untuk memetakan lokasi SPKLU di sepanjang rute perjalanan,” kata Iqbal. Iqbal menjelaskan, salah satu kesalahan umum pemudik mobil listrik adalah terlalu mengandalkan klaim jarak tempuh pabrikan. Padahal dalam penggunaan nyata, jarak tempuh aktual biasanya berada sekitar 5–10 persen di bawah klaim resmi. Selisih tersebut bisa semakin besar jika kondisi jalan tidak ideal, seperti sering macet, banyak tanjakan, atau gaya berkendara yang kurang efisien. Maka dari itu, pengemudi disarankan untuk selalu memberi margin aman saat menyusun rute perjalanan. Jangan menunggu baterai berada di level terlalu rendah sebelum mengisi daya. Idealnya, pengisian sudah direncanakan ketika kapasitas baterai masih berada di kisaran 20–30 persen. Langkah ini penting untuk menghindari risiko antrean panjang atau kondisi SPKLU yang tidak dapat digunakan saat dibutuhkan. Dengan perencanaan rute yang matang dan manajemen baterai yang tepat, mudik Lebaran menggunakan mobil listrik tetap bisa berjalan aman dan nyaman. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang