Tren elektrifikasi atau transisi menuju kendaraan bebas emisi (zero-emission) di sektor transportasi massal terus berkembang pesat. Namun, implementasi teknologi ini dinilai tidak bisa dipukul rata antara angkutan umum perkotaan dengan bus jarak jauh atau pariwisata. General Manager Busworld International, Vincent Dewaele mengingatkan bahwa ada realitas operasional yang jauh berbeda dan lebih kompleks yang harus dihadapi oleh para operator bus jarak jauh. Menurut Vincent, transisi menuju kendaraan ramah lingkungan di sektor transportasi dalam kota memang bisa berjalan lebih cepat karena rute yang statis. Namun, hal itu berbeda dengan karakteristik bus AKAP atau pariwisata yang populasinya sangat besar di Indonesia. Bus listrik KaBogor melawiti perlintasan kereta api, Rabu (8/4/2026). "Elektrifikasi di transportasi perkotaan memang maju pesat. Namun, kita harus mengakui besarnya investasi infrastruktur yang dibutuhkan, mulai dari fasilitas pengisian daya, stabilitas jaringan listrik, hingga rantai pasokan baterai," ujar Vincent dalam pembukaan Busworld Southeast Asia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Bagi para operator bus jarak jauh, perpindahan ke tenaga listrik murni masih dibayangi oleh berbagai faktor teknis di lapangan yang berpengaruh langsung pada struktur bisnis mereka. "Jarak tempuh menjadi hal yang sangat penting. Selain itu, durasi pengisian daya, kontur medan jalan yang beragam, tetap menjadi pertimbangan yang sangat krusial bagi operator," kata Vincent lagi. Di sisi lain, Vincent juga menyoroti tekanan besar yang dihadapi sektor transportasi global saat ini. Gejolak geopolitik yang terjadi di Timur Tengah berimbas langsung pada konsumsi dan efisiensi energi dunia. Kondisi ini memaksa industri untuk tidak hanya terpaku pada satu teknologi tunggal saja dalam menekan emisi gas buang, melainkan kombinasi cerdas dari berbagai solusi alternatif. Mulai dari sistem hibrida (hybrid), teknologi hidrogen, bahan bakar alternatif, hingga optimalisasi armada berbasis digital. "Masa depan tidak akan ditentukan oleh satu teknologi saja. Di era sekarang, digitalisasi telah mengubah operasional dan meningkatkan efisiensi. Data kini telah menjadi sama pentingnya dengan bahan bakar," kata Vincent. Oleh karena itu, Vincent menegaskan bahwa masa depan mobilitas berkelanjutan tidak bisa dibangun oleh pabrikan sasis atau karoseri sendirian. Diperlukan kemitraan erat lintas sektor yang melibatkan pemerintah, operator bus, perusahaan energi, hingga lembaga keuangan agar transisi ini berjalan realistis dan inklusif secara ekonomi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang