Tren elektrifikasi kendaraan niaga di Indonesia mulai bergeser ke arah yang lebih menantang. Setelah bus listrik perkotaan sukses beroperasi di beberapa kota besar, kini beberapa operator mulai melirik penggunaan bus listrik untuk jalur antarkota. Langkah berani ini tentu mendapat apresiasi dari pelaku industri. Namun, PT Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) mengingatkan bahwa operasional bus listrik jarak jauh tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada tantangan besar di sektor ekosistem yang harus segera diselesaikan. Pemkab Bogor mulai mengoperasikan layanan bus listrik gratis yang menghubungkan Stasiun Bojonggede dan Sentul City. Layanan ramah lingkungan ini diluncurkan langsung oleh Bupati Bogor Rudy Susmanto saat Car Free Day (CFD) di Jalan Tegar Beriman, Cibinong, Minggu (5/4/2026). President Director DCVI Naeem Hassim mengatakan, kekhawatiran terbesar saat ini bukanlah kesiapan teknologi kendaraannya, melainkan kesiapan ekosistem pengisian dayanya atau charging station. "Satu-satunya hal yang masih saya khawatirkan adalah seperti apa ekosistemnya nanti? Bagaimana ekosistem tersebut bekerja?" ujar Naeem di Jakarta, Jumat (22/5/2026). SPKLU Tol Didominasi Mobil Pribadi Menurut Naeem, jalur utama seperti tol Trans-Jawa sudah mulai menyediakan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Namun, fasilitas tersebut mayoritas didesain untuk mobil penumpang pribadi, bukan untuk kendaraan niaga besar seperti bus atau truk. SPKLU di Rest Area Travoy KM 88A Jalan Tol Cipularang "Jika kita ambil contoh perjalanan dari Jakarta ke Bandung, memang sekarang sudah mulai dipasang stasiun pengisian daya di beberapa rest area. Namun, itu untuk mobil penumpang. Sekarang pertanyaannya, bagaimana dengan bus?" kata dia. Operasional bus komersial membutuhkan kepastian waktu yang sangat ketat. Operator tidak bisa berspekulasi mengenai ketersediaan slot pengisian daya di tengah jalan karena akan mengacaukan jadwal perjalanan penumpang. "Anda bepergian untuk urusan bisnis, misalnya ke Bandung, dan harus melakukan booking tempat pengisian daya terlebih dahulu karena Anda tidak tahu berapa banyak mobil yang sedang antre di sana. Ini tantangan yang sama di berbagai negara," kata Naeem. Bus listrik PO Sumber Alam dan Kalista rute Bekasi dan Yogyakarta Oleh karena itu, DCVI menilai tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatra merupakan kunci utama. Pemerintah diharapkan bisa membangun infrastruktur pengisian daya khusus bus dan truk di sepanjang tol tersebut. "Jika pemerintah membangun semua charging station khusus kendaraan niaga di sepanjang jalan tol utama, sebenarnya kita sudah menyelesaikan sebagian besar masalahnya," tegasnya. Sensitivitas Harga Tiket Bus Tantangan lain yang tidak kalah krusial adalah dari sisi bisnis operator bus. Berbeda dengan pengguna mobil pribadi, penumpang bus antarkota sangat sensitif terhadap harga tiket. Bagi pengusaha bus, target utama mereka adalah memastikan semua kursi terisi penuh guna menutup biaya operasional yang tinggi. Kehilangan satu penumpang saja berarti hilangnya potensi bisnis. "Saat berbicara dengan para pelanggan dan operator bus, kuncinya adalah memastikan kursi terisi penuh. Bus harus penuh sebelum berangkat ke tujuan jauh seperti Medan. Setiap kursi yang kosong adalah kerugian," jelas pihak DCVI. Tekanan ini membuat harga unit bus listrik dan biaya operasionalnya harus benar-benar efisien agar harga tiket tetap terjangkau oleh masyarakat luas yang menjadi konsumen utama transportasi darat ini. Di sinilah peran penting insentif pemerintah sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk mobil penumpang, tetapi juga untuk operator bus atau produsen (OEM). KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang