Perbandingan populasi mobil listrik dan SPKLU di Indonesia masih jauh dari kata seimbang. Itulah mengapa, antrean isi daya masih sering terjadi di tempat-tempat yang cenderung ramai.Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, hingga Februari 2026, populasi mobil penumpang listrik di Indonesia sudah mencapai 119 ribuan unit. Padahal, akhir 2024 lalu, angkanya masih 35 ribuan unit. Hal tersebut menandakan betapa larisnya kendaraan nonemisi itu di Tanah Air. Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi mengatakan, pertumbuhan populasi mobil listrik belum mampu diimbangi penambahan SPKLU di Indonesia. Sebab, perbandingannya memang terbilang jauh."Ini status hingga Februari 2026. Jadi secara total memang belum masif, kita terus dorong. Saya kira saat kita bicara perjalanan Jakarta ke Bali, sudah aman bawa mobil listrik. Karena sudah tersedia SPKLU-nya," ujar Trois di Senayan, Jakarta Pusat (Jakpus).Pengisian daya mobil listrik di SPKLU Center PLN Bali. (Dok. PT PLN UID Bali) Foto: Pengisian daya mobil listrik di SPKLU Center PLN Bali. (Dok. PT PLN UID Bali)Ketika populasi mobil listrik di Indonesia sudah mencapai 119 ribuan unit, SPKLU-nya baru tersedia 4.892 titik di 3.163 lokasi berbeda. Maka, hingga Februari 2026, perbandingannya kurang lebih 1:29.SPKLU sejauh ini masih terpusat di Pulau Jawa. Bahkan, dari 4.892 unit di Indonesia, 3.638-nya terletak di kawasan tersebut. Sementara di Jakarta sendiri sudah ada 1.405 titik. Berkaca dari kenyataan tersebut, Trois berharap, ke depannya ada pemerataan SPKLU di Indonesia.Menurut Kepmen ESDM No. 24.K/TL.01/MEM.L/2025 tentang Rencana Pengembangan SPKLU untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, Indonesia ditargetkan punya 9.633 SPKLU tahun ini. Angkanya kemudian meningkat menjadi 62.918 SPKLU pada 2030 dan 192.251 SPKLU pada 2034.Meski demikian, angka-angka tersebut hanya rencana. Realisasinya bisa saja lebih rendah atau justru lebih tinggi. Semua tergantung bagaimana kondisi pasar dan tingginya permintaan mobil listrik di masa depan.