Seiring pemakaian, performa baterai lithium ion bisa menurun akibat kondisi sel yang tidak lagi seimbang atau dikenal sebagai cell imbalance. Masalah ini sering kali tidak terlihat dari luar. Bahkan, baterai yang masih menunjukkan voltase total normal belum tentu memiliki kondisi yang sehat. Karena itu, pemeriksaan harus dilakukan hingga ke masing-masing sel penyusun baterai. Abdulah, pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat, mengatakan, kondisi baterai lithium-ion tidak cukup dinilai dari voltase total paket baterai tapi melihat perbedaan tegangan antar sel. "Kalau voltase lithium itu idealnya masih bisa menyentuh 4,15 volt, itu masih bagus. Atau total pada baterai 72 volt, dia masih bisa menyentuh 83 volt, itu masih bagus hitungannya," kata Abdul panggilannya belum lama ini. Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat "Tapi kita tidak bisa hanya berpatokan pada voltase utuh, yang lebih kita lihat adalah perbedaan voltase antar selnya. Perbedaan voltase antar sel itulah yang kita perhatikan," ujarnya. Menurut Abdul, perbedaan tegangan antar sel yang terlalu besar dapat menjadi indikasi adanya sel yang mulai melemah. Kondisi ini berpotensi membuat kapasitas baterai turun lebih cepat dibandingkan saat masih baru. "Kalau rentangnya, berarti tidak boleh terlalu jauh. Kalau di lithium itu sekitar 0,5 volt sudah terlalu parah. Biasanya kita lakukan balancing kalau perbedaannya 0,2 volt saja dan tidak turun-turun," ujarnya. "Perbedaan itu misalnya 3,2 volt, yang satunya 3,0 volt. Nah, kalau tidak turun-turun, biasanya nanti di persentase atau kapasitasnya sudah mulai mau habis. Yang 3,0 volt itu biasanya loncat, tiba-tiba drop-nya langsung jauh. Nah, itu yang kita khawatirkan," katanya. Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat "Jadi 0,2 volt saja biasanya sudah kita balance ulang, antar sel ya, bukan satu pack," ujar Abdul. Balancing Abdul mengatakan, balancing merupakan proses menyamakan tegangan antar sel agar seluruh komponen baterai bekerja dalam kondisi yang seragam. Proses ini penting karena satu sel yang lemah dapat memengaruhi performa seluruh paket baterai. Ketika ditemukan perbedaan tegangan yang cukup besar, teknisi akan melakukan pemeriksaan lebih mendalam untuk mengetahui apakah ada sel yang mulai mengalami penurunan kapasitas. "Jadi kalau misalkan yang satu voltasenya lebih tinggi, yaitu 3,2 volt, lalu baterai yang kedua misalkan 3,0 volt, yang 3,0 volt ini lebih berisiko rusak berarti? Ya, bisa jadi, bisa tidak," ujarnya. "Tapi sebenarnya kalau mau dijabarkan panjang urutannya, per sel itu kita cek. Lebih bagus lagi ketika misalkan pemiliknya mau sel baterainya di-repack ulang." katanya. Abdulah, pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat Perbaikan Dalam proses perbaikan yang lebih menyeluruh, baterai akan dibongkar dan setiap sel diperiksa satu per satu. Baterai dikosongkan untuk mengetahui kapasitas asli dari masing-masing sel. Pemeriksaan kondisi setiap sel secara berkala menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga performa dan usia pakai baterai lithium-ion pada motor listrik Dengan penanganan yang tepat, baterai yang mengalami cell imbalance masih bisa diperbaiki tanpa harus langsung mengganti satu paket baterai secara keseluruhan. "Jadi kita bongkar semua, kita cek per selnya, lalu kita drain per selnya. Jadi kita tahu kapasitas per satu baterainya," kata Abdul. "Nah, nanti biasanya kalau pemiliknya tidak mau mengganti sel baterainya, kita akan menjadikan sel yang kapasitasnya paling rendah sebagai patokan," ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang