Tren modifikasi kendaraan listrik (EV), khususnya motor listrik, kini mulai ramai diminati di Indonesia. Banyak pemilik yang ingin mengubah karakter berkendara motor listriknya agar menjadi lebih responsif, bertenaga, atau sering disebut lebih "jengat". Namun, bagi pemilik yang ingin mendongkrak performa, ada pemahaman yang perlu diluruskan. Rahasia dapur agar motor listrik bisa melesat instan bukan hanya bertumpu pada penggantian baterai semata. Indomobil Emotor Sprinto Hernest, Owner dari Bogor Battery Electric Motion (BEMo), bengkel spesialis baterai kendaraan listrik, mengungkapkan, di dalam ekosistem penggerak motor listrik terdapat "tiga komponen kunci" yang wajib saling mendukung secara kapasitas dan efisiensi. Jika salah satu komponen tidak setara, performa yang dihasilkan tidak akan bisa maksimum. "Intinya kalau sepeda listrik atau motor listrik itu ada tiga kekuatan. Baterai, controller, dan dinamo," ujar Hernest kepada Kompas.com belum lama ini. 1. Baterai (+ BMS Pintar) Komponen pertama tentu saja adalah baterai sebagai sumber daya utama kendaraan. Namun, baterai yang bagus juga harus dikawal oleh Battery Management System (BMS) yang pintar. BMS ini berfungsi untuk mengatur batas pengeluaran arus (discharge) secara aman dan optimal. Baterai berspesifikasi tegangan tinggi (seperti 60V hingga 72V ke atas) umumnya menjadi modal awal yang baik untuk mengejar performa. 2. Controller (Otak Pengatur Arus) Komponen kedua adalah controller, yang bertindak sebagai otak untuk mengatur penyaluran arus dari baterai menuju dinamo penggerak. Hernest menegaskan, kapasitas controller harus memiliki kemampuan yang setara atau bahkan di atas spesifikasi arus yang dikeluarkan oleh BMS baterai. "Urutannya itu BMS, kalau BMS-nya itu 60, maka controller-nya minimal 60. Paling bagus 100," kata Hernest. Jika controller terlalu kecil, maka aliran tenaga dari baterai akan tertahan. Bengkel Motor Listrik & Sepeda Listrik Bogor (RI EV Maintenance) 3. Dinamo / Motor Penggerak Komponen terakhir dari segitiga kekuatan ini adalah dinamo penggerak. Banyak motor listrik standar bawaan pabrik yang sudah memiliki baterai dan controller bagus, namun dinamonya masih berkapasitas kecil, misalnya hanya 1.000 watt. Kondisi inilah yang membuat respons motor terasa biasa saja atau kurang maksimum saat tuas gas diputar. "Ini (baterai dan controller) sudah bagus, tapi dinamonya masih 1.000 watt, itu kurang maksimum. Tapi kalau dibikin (upgrade) ke 2.000 watt, maka ini bisa bekerja maksimum, bisa jengat-jengat lah intinya, dan lebih efisien juga," pungkas Hernest. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang