Tampilan Mobil Toyota New Veloz Hybrid Wakil Presiden Direktu TMMIN, Bob Azam menjelaskan, saat ini tingkat kandungan lokal atau TKDN baterai lithium-ion yang digunakan pada model hybrid Toyota di Indonesia telah mencapai sekitar 21,27 persen. Angka tersebut diperoleh dari proses perakitan baterai yang sudah dilakukan di dalam negeri, meski sebagian komponen krusial masih didatangkan dari luar.“Kalau bicara baterai, kuncinya sebenarnya ada di sel baterai. Komponen lain seperti casing, power control, sensor, itu relatif lebih mudah dilokalkan. Tapi sel baterai ini memang yang paling krusial,” ujar Bob Azam di Bandung, Jawa Barat. Ia memaparkan, dari sekitar 30 komponen utama yang membentuk satu paket baterai hybrid, saat ini delapan komponen sudah berhasil diproduksi secara lokal. Dalam skema penghitungan yang berlaku saat ini, baterai tersebut sudah dikategorikan sebagai produk lokal karena dirakit di Indonesia, meskipun sel baterainya masih impor.Namun ke depan, Toyota tak ingin berhenti di tahap perakitan semata. Bob mengungkapkan, TMMIN sudah menyiapkan jalur produksi atau lane khusus untuk pengembangan sel baterai di Indonesia. Tahap awalnya akan difokuskan untuk kebutuhan kendaraan hybrid, sebelum nantinya dikembangkan lebih lanjut untuk baterai kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV). “Sebenarnya kita sudah ada kerja sama untuk pengembangan sel baterai. Tinggal tunggu waktunya. Lane-nya sudah ada, tapi sementara kita fokus dulu ke hybrid karena jumlah selnya masih lebih sedikit dibanding BEV,” tutur dia. Tak hanya soal produksi, Toyota juga mulai memikirkan fase lanjutan dari siklus hidup baterai, yakni pengelolaan dan daur ulang. Menurut Bob, seiring bertambahnya populasi kendaraan elektrifikasi, isu penanganan baterai bekas akan menjadi tantangan serius jika tidak dipersiapkan sejak awal. “Ke depan bukan cuma produksi, tapi juga collecting, reuse, dan recycle baterai. Ini bisa menjadi ekosistem baru dan bahkan sumber ekonomi baru,” katanya.Langkah ini sejalan dengan arah pengembangan industri otomotif nasional yang tidak hanya mengejar volume produksi, tetapi juga memperkuat rantai pasok dan skala ekonomi. Bob menegaskan, penguatan lokalisasi baterai akan berdampak langsung pada daya saing industri, terutama di tengah ketidakpastian global dan tingginya ketergantungan impor material strategis.“Elektrifikasi itu tidak bisa dilepaskan dari baterai. Kalau baterainya bisa kita kembangkan di dalam negeri, maka fondasi industri otomotif kita akan jauh lebih kuat,” kata dia.