TOYOTA GAZOO ROOKIE Racing (TGRR) kembali menghadapi kerasnya Nürburgring 24 Hours 2026 dengan membawa GR YARIS DAT sebagai bagian dari filosofi “making ever-better motorsports-bred cars” milik Toyota Gazoo Racing. Balapan legendaris di Jerman tersebut menjadi salah satu arena terpenting bagi Toyota untuk mengembangkan mobil dan pembalap secara langsung melalui kondisi ekstrem di lintasan Nürburgring Nordschleife. Meski gagal memenuhi syarat klasifikasi finis dan hanya mencatat status DNC (Did Not Classify), TGRR menyebut pengalaman tahun ini sebagai pelajaran besar tentang ketahanan, kerja tim, dan semangat pantang menyerah. Mobil nomor #109 GR YARIS DAT datang ke Nürburgring dengan sejumlah pengembangan agresif dibanding spesifikasi tahun lalu. Di bawah arahan Chief Engineer Kei Hisatomi, mobil mendapatkan peningkatan pada sektor powertrain, aerodinamika, hingga pelebaran track width. Perubahan tersebut langsung menunjukkan hasil positif saat putaran kedua Nürburgring Langstrecken-Serie (NLS) pada Maret lalu, di mana mobil mampu mencatat waktu sekitar 10 detik lebih cepat dibanding spesifikasi 2025. Pada hari balapan, Morizo, nama balap Chairman Toyota Akio Toyoda, memberikan pesan khusus kepada seluruh tim agar tetap tenang dan fokus menghadapi tantangan Nürburgring. “Jika ada yang kesulitan, katakan. Jika ada yang bisa dibantu, lakukan. Dan jika seseorang membantu Anda, ucapkan terima kasih. Dedikasi sederhana seperti itulah yang menciptakan One Team sesungguhnya,” ujar Morizo dalam briefing tim sebelum start. Saat balapan dimulai, mobil #109 tampil cukup solid meski lintasan Nürburgring kembali menghadirkan kondisi sulit. Beberapa mobil papan atas berguguran, sementara GR YARIS DAT terus melaju tanpa masalah besar selain retakan pada kaca depan. Pembalap Kazuki Nakajima Ishiura tampil agresif mengejar mobil yang lebih cepat sebelum menyerahkan kemudi kepada Morizo. Gaya mengemudi halus Morizo yang disebut mewarisi karakter mendiang Hiromu Naruse bahkan sempat menjadi sorotan siaran resmi balapan. Namun drama besar terjadi menjelang pagi hari. Sekitar pukul 06.00 pagi, pembalap Kazuya Oshima melaporkan getaran tidak normal pada mobil. Setelah pemeriksaan dilakukan, tim memutuskan mengambil langkah ekstrem dengan mengganti seluruh mesin dan sistem driveline demi memastikan mobil tetap bisa kembali ke lintasan. General Manager Toshiyuki Sekiya mengaku keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan filosofi Nürburgring yang selalu diajarkan Hiromu Naruse. “Dalam balapan ini kami memutuskan mengganti seluruh driveline untuk menghindari mobil berhenti di lintasan dan segera menyelesaikan masalah. Saya sangat berterima kasih karena seluruh anggota tim memiliki tekad yang sama untuk membuat mobil kembali berjalan,” kata Sekiya. Proses penggantian komponen besar tersebut memakan waktu sekitar tiga jam. Setelah absen sekitar tujuh jam dari lintasan, GR YARIS DAT akhirnya kembali balapan. Morizo kemudian mengambil stint terakhir dalam kondisi lintasan campuran basah dan kering. Ia berhasil menyelesaikan delapan lap terakhir hingga menyentuh garis finis, sekaligus memastikan mobil kembali finish setelah perjuangan panjang sepanjang malam. “Frustrasi seperti inilah yang menjadi bagian dari Nürburgring. Dulu kami pernah mengalami kerusakan mesin dan bahkan tidak bisa berjalan selama lebih dari 10 jam. Tetapi arti sebenarnya menaklukkan Nürburgring adalah bangkit dari kesulitan itu,” ujar Morizo. Meski hanya menyelesaikan total 77 lap dan gagal masuk klasifikasi resmi, Toyota menilai pengalaman tahun ini sangat penting untuk pengembangan mobil di masa depan. Akio Toyoda alias Morizo tidak menjadi juara di 24 Hours of Nürburgring 2026. Mobil #109 GR YARIS DAT milik TOYOTA GAZOO ROOKIE Racing hanya menyelesaikan 77 lap dan hasil resminya tercatat sebagai DNC (Did Not Classify), karena tidak memenuhi syarat klasifikasi finis setelah mengalami masalah teknis besar pada mesin dan driveline. Adapun pemenang overall Nürburgring 24 Hours 2026 adalah Mercedes-AMG #80. Lead Engineer Kei Hisatomi bahkan mengaku sangat kecewa dengan hasil akhir yang diraih tim. “Sejujurnya saya sangat frustrasi sampai rasanya ingin menangis. Kami sudah melakukan banyak tes dan mengumpulkan data, tetapi Nürburgring selalu menghadirkan masalah tak terduga. Namun saya tidak ingin semuanya berakhir seperti ini. Saya ingin membuat mobil yang benar-benar bisa menaklukkan Nürburgring suatu hari nanti,” ungkap Hisatomi. Tahun depan akan menjadi momen spesial bagi Toyota Gazoo Racing karena menandai 20 tahun perjalanan mereka di Nürburgring. TGRR pun bertekad menjadikan kegagalan tahun ini sebagai fondasi untuk kembali lebih kuat di masa depan.