Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Dukungan pemerintah, bertambahnya pilihan model, serta semakin luasnya jaringan stasiun pengisian daya membuat minat masyarakat terhadap mobil listrik meningkat dari tahun ke tahun. Meski demikian, sejumlah hambatan dalam penggunaan kendaraan listrik masih ditemui di lapangan. Salah satunya berkaitan dengan layanan penyeberangan antar pulau yang hingga kini dinilai masih memerlukan penyamaan persepsi mengenai aspek keselamatan kendaraan listrik. Komunitas mobil listrik BYD BEYOND Wakil Ketua Umum Bidang Humas dan Edukasi Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Achmad Rofiqi, mengatakan, berbagai kendala yang dialami pengguna kendaraan listrik kerap disampaikan melalui komunitas dan kemudian diteruskan kepada pemerintah melalui asosiasi. Menurut dia, salah satu isu yang menjadi perhatian adalah terkait layanan penyeberangan menggunakan kapal antar pulau. Beberapa pengguna kendaraan listrik dari komunitas mobil listrik dilaporkan pernah mengalami penolakan saat hendak menyeberang menggunakan kapal feri. Mobil Listrik Ditolak Naik Feri "Salah satu masukan yang sempat kami sampaikan adalah terkait layanan penyeberangan ASDP," kata Rofiqi kepada Kompas.com, pekan lalu. Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) resmi menggelar konferensi bertajuk Periklindo EV Conference 2024. Acara digelar pada 12-13 September 2024 bertempat di Intercontinenal Bali Resort. Rofiqi menjelaskan, kondisi di Indonesia masih menunjukkan adanya perbedaan pemahaman mengenai karakteristik kendaraan listrik. Akibatnya, sejumlah pengguna sempat mengalami kendala saat akan menggunakan layanan penyeberangan. "Jika melihat regulasi di Eropa dan beberapa negara lain, kendaraan listrik memang diperbolehkan menyeberang, tetapi ada ketentuan bahwa kapasitas baterai maksimal berada di kisaran 15-20 persen, sehingga tidak boleh dalam kondisi penuh," ujarnya. "Tujuannya untuk meminimalkan risiko apabila terjadi insiden yang tidak diinginkan, karena potensi kebakaran akan lebih sulit ditangani ketika baterai dalam kondisi penuh," ujarnya. Ia menilai persoalan tersebut perlu diselesaikan melalui koordinasi antara pemerintah, operator transportasi, pelaku industri, dan komunitas pengguna kendaraan listrik. "Kondisi seperti ini terjadi karena masih ada ketidakpahaman mengenai kendaraan listrik," kata Rofiqi. Ilustrasi Pulau Enggano. Keselamatan EV di Transportasi Laut Rofiqi menekankan pentingnya pemerintah mempelajari praktik terbaik yang telah diterapkan di berbagai negara, terutama terkait standar keselamatan kendaraan listrik di transportasi laut. "Sebagai pembuat kebijakan, pemerintah perlu melihat bagaimana praktik di negara lain, termasuk standar keselamatan yang diterapkan," katanya. "Bahkan jika berbicara soal keselamatan, beberapa anggota kami sudah memiliki alat pemadam api ringan (APAR) khusus untuk baterai lithium," ujar Rofiqi. "Peralatan seperti ini bisa ditempatkan di kapal maupun sarana penyeberangan sebagai langkah penanganan awal apabila terjadi kebakaran," katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang