Lalu lintas macet tak mengenal jalan menanjak atau landai. Kemacetan bisa terjadi di mana saja, dan menjadi ancaman bagi pengendara kendaraan niaga seperti truk. Pasalnya, truk bermuatan yang terjebak macet di tanjakan memiliki risiko bahaya cukup besar, baik bagi pengemudi maupun pengguna jalan lain. Ketua Subkomite Lalu Lintas Angkutan Jalan KNKT, Ahmad Wildan mengatakan truk bermuatan yang terjebak macet di tanjakan berpotensi gagal menanjak dan mundur tak terkendali. “Saat berhenti di tanjakan, truk bermuatan berat membutuhkan tenaga dan teknik khusus untuk kembali jalan, memaksakan pengemudi memainkan setengah kopling yang bisa bikin masalah,” ucap Wildan kepada KOMPAS.com, Senin (16/2/2026). Ada risiko kopling terbakar pada truk manual ketika sering pakai setengah kopling di waktu yang berdekatan. Dari segi cara kerjanya, kopling di transmisi manual memang demikian. Cara ini membuat kampas kopling cepat aus dan bisa mengeluarkan asap hingga kehilangan fungsi penggerak. Truk bisa meluncur mundur bila pengemudi terlambat menginjak rem. Truk menabrak mobil Toyota Fortuner karena muatan overload dan tidak kuat menanjak di Jalan Raya Muchtar, Sawangan, Kota Depok, Kamis (15/1/2026). “Truk bisa meluncur mundur bila terjadi masalah pada sistem rem, seperti ada kebocoran angin, transmisi tersangkut di posisi netral karena terlambat memindah gigi ke posisi lebih rendah,” ucap Wildan. Menahan truk di tanjakan sering membuat pengemudi terus menginjak rem. Gesekan berlebih pada kampas dan cakram menyebabkan panas tinggi, sehingga kemampuan pengereman menurun drastis bahkan bisa gagal total. Beban berat dan kondisi berhenti di tanjakan membuat mesin bekerja ekstra. Jika tenaga tidak cukup, mesin bisa stall, memperbesar risiko kendaraan meluncur mundur. Truk tak kuat menanjak. Jalan raya PKP picu kecelakacan beruntun, Selasa (10/2/2026). “Kendaraan kecil sering berhenti terlalu dekat, padahal truk butuh ruang untuk antisipasi mundur. Saat truk bergerak tak terkendali, dampaknya bisa fatal,” ucap Wildan. Selain itu ada potensi muatan bergeser. Saat truk berhenti lama di kemiringan, distribusi beban berubah dan bisa membuat kendaraan tidak stabil, terutama jika muatan tidak terikat kuat. Dari segi kemampuan truk untuk menanjak, sebenarnya ada selisih cukup banyak. Kebanyakan tanjakan curam di Indonesia berkisar 10 sampai 20 persen, sementara kemampuan truk 25 sampai 65 persen. Evakuasi korban yang kecelakaan di Jlegung Dusun Lendoh Desa Bedono Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang membutuhkan waktu enam jam “Tapi karena beberapa pengemudi melakukan kesalahan penggunaan transmisi, ada malfunction pada sistem pneumatic, atau ada kemacetan parah di jalan menanjak, itu beberapa hal yg menyebabkan terjadinya gagal nanjak,” ucap Wildan. Kesimpulannya, macet di tanjakan adalah salah satu kondisi paling berbahaya bagi truk bermuatan. Karena itu, pengemudi seharusnya menjaga jarak, memilih gigi rendah sejak awal, dan memastikan sistem rem serta kopling dalam kondisi prima. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang