Pebalap Red Bull KTM, Pedro Acosta, penasaran dengan performa motor MotoGP berkapasitas 850 cc yang akan mulai digunakan pada musim 2027. Acosta menilai motor musim depan akan sangat berbeda dari segi pengendalian. Kecepatan puncak motor memang berkurang tapi kecepatan saat menikung jadi lebih tinggi. “Saya pikir yang berbahaya saat ini bukan karena kita melaju 360 km/jam di lintasan lurus,” kata Acosta dilansir dari Crash, Kamis (16/4/2026). “Masalahnya adalah kami jauh lebih cepat di tikungan dibanding tahun lalu, bahkan dibanding beberapa tahun sebelumnya, dan itu yang membuat olahraga ini berbahaya,” ujarnya. Pebalap Ducati Lenovo Team, Marc Marquez, dibayangi Pedro Acosta (Red Bull KTM) dan pebalap Trackhouse MotoGP Raul Fernandez (belakang) dalam Sprint Race MotoGP Thailand 2026 di Sirkuit Internasional Buriram di Buriram pada 28 Februari 2026. (Foto oleh Lillian SUWANRUMPHA / AFP) Seperti diketahui, regulasi baru MotoGP akan memangkas kapasitas mesin dari 1.000 cc menjadi 850 cc. Perubahan ini diperkirakan menurunkan kecepatan puncak, sekaligus diiringi pengurangan bobot minimum motor dari 157 kg menjadi 153 kg. Kombinasi tersebut berpotensi membuat motor justru lebih cepat saat melibas tikungan. Membuat risiko saat balapan sama saja seperti saat ini atau bahkan jadi lebih tinggi. Meski begitu, dampak keseluruhan masih belum pasti karena ada faktor lain, seperti pengurangan aerodinamika, penggunaan ban Pirelli, serta penghapusan perangkat ride-height. Mika Kallio mengetes motor KTM tanpa ride-height dan holeshot device “Saya tidak tahu bagaimana nantinya. Apalagi tanpa perangkat belakang tahun depan. Saya penasaran soal ini,” ujarnya. Selain menyoroti aspek teknis, Acosta juga mengkritisi kalender balap MotoGP yang semakin padat. Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memperpendek karier pebalap. Sebagai gambaran, MotoGP kini memiliki 22 seri dalam satu musim. Sejak 2023, juga diperkenalkan balapan Sprint pada hari Sabtu, sehingga total terdapat 44 balapan dalam satu musim. Livery KTM Factory Racing “Yang saya rasa buruk dari kalender sekarang adalah karier pebalap akan menjadi lebih pendek,” kata Acosta. “Tidak mungkin menjalani 22 akhir pekan dengan sesi penting setiap hari, seperti PR (Jumat), kualifikasi dan Sprint (Sabtu), lalu balapan utama (Minggu),” ujarnya. Menurut dia, padatnya jadwal membuat pebalap tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi secara bertahap di lintasan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang