Truk over dimension dan overloading (ODOL) di tanjakan sangat berbahaya. Beban berlebih membuat kendaraan berpotensi kehilangan tenaga dan momentum. Saat mesin dipaksa bekerja jauh di atas kapasitasnya, truk bisa melambat drastis bahkan berhenti di tengah tanjakan. Risiko utamanya, truk bisa mundur tak terkendali. Saat tenaga tidak cukup menahan beban dan gravitasi, truk dapat meluncur ke belakang dan membahayakan kendaraan lain di belakangnya. Ketua Subkomite Lalu Lintas Angkutan Jalan KNKT, Ahmad Wildan mengatakan truk bisa mengalami gagal menanjak, sampai mundur tak terkendali, salah satu faktornya karena muatan berlebih. “Saat truk tak kuat menanjak atau kehabisan napas, mesin bisa saja mati, truk bisa mundur tak terkendali karena pengemudi cenderung berusaha mengganti gigi lebih rendah tapi tersangkut di posisi netral,” ucap Wildan kepada KOMPAS.com, Kamis (12/2/2026). Muatan berlebih turut mempengaruhi, beban muatan melebihi batas normal akan meningkatkan potensi gagal menanjak dan truk mundur tak terkendali. Truk tak kuat menanjak. Jalan raya PKP picu kecelakacan beruntun, Selasa (10/2/2026). “Kegagalan terjadi karena kesalahan penggunaan transmisi, sehingga torsinya tidak tercapai, pada akhirnya "kehabisan napas" di tengah tanjakan,” ucap Wildan. Tenaga mesin yang tidak mampu melawan gaya gravitasi, terutama ketika membawa muatan berat, akan membuat kendaraan berhenti lalu perlahan bergerak mundur. Jika pengemudi menggunakan gigi terlalu tinggi, torsi yang diteruskan ke roda menjadi kecil, sehingga truk kehilangan tenaga untuk menanjak. Putaran mesin (Rpm) untuk nanjak dan turun berada di antara 1.500 sampai dengan 2.000 Rpm, atau zona putih pada tachometer. Zona tersebut memungkinkan truk mampu mencapai torsi optimal. “Jika kurang dari itu, maka kemampuan menanjak atau menahan kendaraan bakal menurun, semakin diinjak pedal gas akan semakin habis tenaganya, itulah pentingnya memilih gigi yang pas sejak awal,” ucap Wildan. Saat truk kehabisan napas, pengemudi seringkali berusaha memindahkan gigi ke posisi lebih rendah, namun gagal sehingga malah masuk ke posisi netral. Itu sebabnya, banyak dijumpai truk mundur dan pengendaliannya hanya bertumpu pada rem. Evakuasi truk di Jlegung Bedoni Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang membutuhkan waktu berjam-jam “Jika ada kebocoran pada sistem pneumatic-nya, maka bisa terjadi rem blong dan truk mundur tak terkendali,” ucap Wildan. Untuk mencegah mundur, pengemudi bisa memastikan muatan tidak berlebihan, mengambil ancang-ancang, dan menggunakan gigi rendah sejak awal tanjakan, agar torsi tetap besar dan mesin tak kehabisan napas. “Kalau berhenti di slope (kemiringan) kurang dari 18 persen (10,2 derajat), dan truk menggunakan sistem rem full air brake, muatannya tidak overloading dan tidak ada kebocoran pada sistem rem, maka rem parkir masih bisa menahan,” ucap Wildan. Karena itu, mematuhi batas muatan sangat penting demi keselamatan pengemudi dan pengguna jalan lain, terutama saat melewati jalur menanjak yang membutuhkan tenaga dan kontrol maksimal. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang