Mobil gagal nanjak di jalan curam sering kali terjadi secara tiba-tiba dan membuat pengemudi panik. Situasi ini tidak hanya menghambat arus kendaraan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya. Hal tersebut terjadi karena mobil kehilangan traksi yang membuat ban selip, sehingga kendaraan berisiko berhenti bahkan bergerak mundur ke belakang. Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving and Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, secara umum ada tiga aspek yang menyebabkan mobil gagal nanjak yakni faktor manusia, permukaan jalan dan macet, serta kondisi kendaraan. Tiga Faktor Untuk faktor manusia, bisa karena gaya berkendara tidak terbiasa dan panik, atau karena muatan berlebih. Nissan Grand Livina gagal nanjak "Salah satu teknik yang bisa diambil pengemudi ialah mematikan traction control agar meredam gejala wheel spin (selip). Terkhusus, jika jalanan licin dan curam," kata Jusri kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Hal ini terjadi karena, secara umum pengemudi cenderung refleks menginjak gas terlalu dalam, sehingga sistem menganggap adanya lonjakkan akselerasi kendaraan tiba-tiba. "Saat kondisi fitur traction control aktif, ketika terjadi seperti itu maka ban selip membuat momentum untuk melaju di tanjakan hilang. Akibatnya, bukannya mobil maju malah semakin mundur ke belakang," kata Jusri. Maka, saat melewati tanjakan, Jusri menyarankan untuk menonaktifkan fitur traction control, sehingga bisa menyalurkan tenaga yang maksimal saat mobil menanjak. “Tapi harus didukung dengan injakan pedal gas (akselerasi) yang mengatur ritme putaran mesin terjaga tidak terlalu tinggi, supaya mobil tetap bisa nanjak tanpa selip,” kata Jusri. Selain itu, Jusri mengatakan, agar mobil tidak gagal nanjak kuncinya adalah ancang-ancang sambil menyeimbangkan putaran mesin. “Untuk curam tanjakan 40 persen, tenaga mesin bisa dipertahankan di angka 3.500 - 4.000 rpm untuk mobil bermesin bensin. Dari jauh gunakan gigi 1 atau L untuk mobil matik,” katanya. Ritme injakan pedal gas saat menanjak harus dijaga tetap stabil, karena ketika tenaga mesin sudah terasa cukup, pengemudi sebaiknya tidak mengurangi atau menambah gas agar momentum tetap terjaga. Secara teori, pedal gas cukup diinjak sekitar 80 persen untuk menghasilkan tenaga optimal, sementara sisa bukaan gas berfungsi sebagai cadangan agar mobil tetap kuat menanjak tanpa berhenti atau merosot. Mobil selip saat menanjak “Menginjak pedal gas 100 persen sampai mentok justru membuat momentum hilang. Karena putaran gas berlebih tidak menghasilkan apa-apa, tenaga mesin bisa keluar sesuai torsi, dan itu terasa dari injakan pedal gas yang ‘ngisi’ di posisi rpm tertentu,” katanya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang