Angka oktan atau Research Octane Number (RON), kerap dijadikan acuan utama dalam memilih bahan bakar. Namun, tidak sedikit masyarakat yang mengira RON hanyalah angka yang “ditambahkan” ke dalam bensin agar terlihat lebih tinggi. Padahal, di balik angka tersebut terdapat faktor kimia kompleks yang menentukan kualitas pembakaran di dalam mesin. Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga pakar bahan bakar dan pelumas, RON pada dasarnya mencerminkan karakter kimia dari bahan bakar itu sendiri, bukan hasil penambahan zat tertentu secara instan. "RON itu ditentukan oleh komposisi senyawa kimia yang ada di dalam bahan bakar, bukan sekadar ditambah sesuatu agar angkanya naik," kata Tri kepada Kompas.com, belum lama ini. Tri menjelaskan, dalam pengukuran RON, bahan bakar akan dibandingkan dengan campuran referensi antara isooktana dan normal heptana. Misalnya, RON 90 berarti karakteristik bahan bakar tersebut setara dengan campuran 90 persen isooktana dan 10 persen normal heptana. Petugas pertamina saat melakukan pengisian ulang BBM di SPBU. Namun demikian, ia menegaskan bahwa bensin di SPBU tidak benar-benar mengandung campuran tersebut secara langsung. Angka RON hanya menjadi indikator kemampuan bahan bakar dalam menahan detonasi, yang dipengaruhi oleh struktur kimia di dalamnya. Lebih jauh, Tri menyebut, faktor utama yang menentukan RON adalah komposisi senyawa yang dikenal dengan istilah PIONA, yakni paraffin, isoparaffin, olefin, naphthenic, dan aromatik. "Kombinasi dari senyawa-senyawa itu yang menentukan sifat bahan bakar, termasuk ketahanan terhadap detonasi dan stabilitas pembakaran," ujarnya. Komposisi PIONA ini juga berpengaruh pada pembentukan deposit di dalam mesin, seperti pada katup masuk (intake valve). Jika deposit menumpuk berlebihan, aliran campuran udara dan bahan bakar ke ruang bakar bisa terganggu. Akibatnya, tenaga mesin menurun karena proses pembakaran tidak berlangsung optimal. Dalam kondisi tersebut, pengemudi biasanya akan menambah bukaan gas untuk mempertahankan performa, yang berujung pada meningkatnya konsumsi bahan bakar. Tak hanya itu, pembakaran yang tidak efisien juga berdampak pada emisi gas buang yang lebih tinggi. Karena itu, dalam standar internasional seperti Worldwide Fuel Charter, batas deposit di dalam mesin diatur agar tidak melebihi ambang tertentu. Stok BBM RON 92 di SPBU Vivo kembali tersedia Untuk menjaga kebersihan mesin, produsen bahan bakar biasanya menambahkan aditif deterjen. Meski demikian, Tri menegaskan bahwa aditif lebih berperan dalam menjaga kebersihan, bukan sebagai penentu utama angka oktan. "Aditif itu fungsinya lebih ke menjaga agar deposit tidak berlebihan, bukan untuk menentukan RON. RON tetap ditentukan oleh komposisi kimia bahan bakarnya," kata Tri. Dengan memahami hal ini, pengguna kendaraan diharapkan tidak lagi melihat RON sekadar sebagai angka, melainkan sebagai representasi kualitas bahan bakar yang berhubungan langsung dengan performa, efisiensi, dan umur mesin. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang