JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap tahun saat musim mudik tiba keselamatan pemudik selalu menjadi perhatian utama pemerintah. Namun setelah arus mudik berakhir, perhatian terhadap keselamatan jalan sering kali memudar, dan kebijakan keselamatan pun kembali menjadi masalah yang terabaikan. Rio Octaviano dari Road Safety Association (RSA) Indonesia, mengatakan, ada sebuah ironi besar yang perlu dicermati yaitu masalah keselamatan jalan baru benar-benar menjadi perhatian pemerintah hanya ketika musim mudik tiba. Pengendara mengantre saat penerapan sistem satu arah (one way) dari arah Bukittinggi menuju Padang di jalur Lembah Anai, Minggu (22/3/2026). Arus lalu lintas terpantau padat merayap akibat tingginya volume kendaraan pada momen arus mudik Lebaran. "Setiap tahun, saat arus mudik menjelang, pemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga saling berkoordinasi, dengan para pejabat berdiri gagah di depan kamera untuk menyampaikan rencana-rencana penanggulangan. Semua itu seakan menunjukkan keseriusan dalam menghadapi permasalahan besar ini," kata Rio dalam keterangan resmi, Selasa (24/3/2026). Rio mengatakan, mengapa kebijakan keselamatan tidak berjalan dengan konsisten sepanjang tahun atau setidaknya perhatian yang sama tidak diberikan setiap hari, setiap detik di jalan raya Indonesia. "Safe System Approach bukanlah sesuatu yang bisa diserahkan hanya pada saat mudik. Ini adalah pendekatan yang wajib diterapkan sepanjang tahun, dengan sistem yang konsisten dan terintegrasi," katanya. Kendaraan terjebak macet menuju puncak Bogor saat mudik Lebaran 2026 "Keselamatan tidak hanya soal kebijakan yang hadir sesaat, keselamatan adalah sistem yang membutuhkan perhatian setiap detiknya, di setiap ruas jalan di Indonesia," ujar Rio. Menurut Rio, data kecelakaan lalu lintas pada 202menunjukkan kenyataan yang sangat mengkhawatirkan. Dalam satu tahun, tercatat 158.508 kejadian kecelakaan, dengan 24.296 korban meninggal dunia dan total 238.878 korban terdampak. Jika ditarik dalam skala waktu, hampir tiga orang meninggal setiap jam, atau satu nyawa hilang setiap 20 menit di jalan raya Indonesia. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 281 juta jiwa, tingkat fatalitas kecelakaan lalu lintas berada pada kisaran 8–9 kematian per 100.000 penduduk. Pintu gerbang Tol Singosari, pada Jumat (20/3/2026). Menurut Rio, data juga menunjukkan bahwa kecelakaan terjadi di jalan yang seharusnya aman. Sebanyak 137.658 kasus terjadi di jalan lurus, 153.930 kasus terjadi pada kondisi permukaan jalan yang baik, dan 151.289 kasus terjadi dalam cuaca cerah. "Temuan ini mematahkan asumsi lama bahwa kecelakaan terutama disebabkan oleh jalan rusak atau kondisi cuaca buruk," kata Rio. "Sebaliknya, data menunjukkan bahwa kecelakaan lebih banyak terjadi dalam kondisi normal, ketika sistem seharusnya mampu memberikan perlindungan yang optimal," ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang