Kecelakaan lalu lintas tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak besar terhadap ekonomi dan produktivitas, khususnya di negara berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2018 mencatat, kecelakaan lalu lintas menjadi salah satu penyebab utama hilangnya produktivitas dan meningkatnya beban ekonomi. Di Indonesia, dampaknya terlihat nyata. Berdasarkan data Korlantas Polri tahun 2025 yang diolah Road Safety Association (RSA), tercatat 158.508 kejadian kecelakaan lalu lintas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 24.296 orang meninggal dunia, 19.311 mengalami luka berat, dan 195.271 luka ringan. Selain korban jiwa, kerugian ekonomi yang ditimbulkan juga tidak kecil. Kerugian material tercatat mencapai Rp 314 miliar. Ilustrasi tabrakan maut Namun, setelah dihitung secara menyeluruh, termasuk biaya pemakaman, pengobatan, hingga kehilangan produktivitas, total beban ekonomi akibat kecelakaan lalu lintas, RSA memperkirakan melampaui Rp 3 triliun per tahun. Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Rio Octaviano, mengatakan kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. "RSA menilai bahwa investasi pada keselamatan jalan merupakan langkah strategis yang dapat menekan angka fatalitas sekaligus mengurangi beban ekonomi negara," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (26/3/2026). Menurut Rio, pemerintah perlu mengalokasikan dana kepada penguatan infrastruktur untuk mencegah dan menekan angka kecelakaan. Ilustrasi kecelakaan motor. Kriteria kecelakaan yang ditanggung BPJS Kesehatan. "Penguatan anggaran perlu difokuskan pada perbaikan infrastruktur jalan yang berorientasi keselamatan, penerapan standar keselamatan kendaraan, khususnya pada sepeda motor yang mendominasi lebih dari 212.000 kendaraan dalam kecelakaan, peningkatan layanan darurat dan trauma center, serta penguatan sistem data dan pengawasan berbasis teknologi," katanya. Menurut Rio, pendekatan safe system sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2020 harus dijalankan secara konsisten dan terintegrasi lintas sektor. "Tanpa intervensi yang sistemik, Indonesia akan terus menghadapi siklus berulang berupa tingginya angka kematian, kerugian ekonomi triliunan rupiah, serta meningkatnya kerentanan sosial masyarakat," ujarnya. Ia menegaskan bahwa keselamatan jalan bukan sekadar isu transportasi, melainkan investasi jangka panjang bagi negara. "RSA menegaskan bahwa keselamatan jalan adalah investasi untuk melindungi nyawa dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan dukungan kebijakan dan anggaran yang tepat, angka fatalitas dapat ditekan secara signifikan," katanya. Polisi saat menindaklanjuti laporan kecelakaan mobil truk box yang alami kecelakaan di Jalur Pantura Desa Pilangsari, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jumat (19/12/2025) Rio menyebut, total beban ekonomi kecelakaan lalu lintas di Indonesia diperkirakan melampaui Rp 3 triliun per tahun berdasarkan pada praktik perhitungan dampak ekonomi kecelakaan secara internasional World Bank pada 2017 dan OECD pada 2015. Secara rinci, biaya langsung yang ditanggung masyarakat mencapai lebih dari Rp 1,2 triliun. Angka tersebut meliputi biaya pemakaman korban meninggal sekitar Rp 243 miliar, biaya pengobatan luka berat sekitar Rp 386 miliar, serta luka ringan sekitar Rp 293 miliar. Di luar itu, kecelakaan lalu lintas juga menyebabkan hilangnya sekitar 2,8 juta hari kerja atau lebih dari 22 juta jam kerja. Jika dikonversikan ke nilai ekonomi, potensi kehilangan produksi tersebut mencapai sekitar Rp 1,8 triliun. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang