Arteri Bisa Jadi Solusi Kemacetan Tol Saat Mudik Lebaran Pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,9 juta orang berdasarkan hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Dibandingkan dengan perkiraan potensi pergerakan tahun lalu yang mencapai 146 juta orang, jumlah untuk Lebaran 2026 turun tipis. Mengenai pilihan moda transportasi, mobil pribadi masih menjadi favorit dengan perkiraan 76,24 juta orang (52,98 persen). Sementara untuk kategori transportasi umum, bus menjadi pilihan paling populer dengan 23,34 juta orang (16,22 persen). Pemudik yang menggunakan mobil pribadi mayoritas memanfaatkan akses jalan tol dengan jumlah mencapai 50,63 juta orang (66,40 persen). Dalam kondisi tersebut, kemacetan parah sulit dihindari. Ilustrasi arus mudik Lebaran 2026. Ini Jadwal One Way, Contra Flow, dan Ganjil-Genap Saat Mudik Lebaran 2026. Menurut Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, solusi kuncinya bukan lagi sekadar menambah tol, melainkan membenahi jalan arteri. “Membenahi jalan arteri agar pemudik punya pilihan jalur alternatif yang setara, baik dari segi keamanan maupun kenyamanan,” kata Djoko dalam keterangannya, Rabu (18/2/2026). Jalur Favorit Djoko menjelaskan, ruas Tol Jakarta–Cikampek menjadi jalur paling padat dengan proporsi 16,30 persen (8,25 juta kendaraan). Kepadatan ini diikuti Jakarta–Cikampek II Elevated (MBZ) sebesar 15,10 persen (7,64 juta kendaraan) dan Tol Dalam Kota Jakarta 14,20 persen (7,19 juta kendaraan). Kondisi ini cukup wajar, mengingat sejak 2019 Tol Trans-Jawa menjadi primadona karena dianggap jalur tercepat menuju berbagai wilayah. Persiapan one way nasional arus balik Lebaran 2025 dari GT Kalikangkung Namun, popularitas ini harus dibarengi pengelolaan matang guna mencegah penumpukan ekstrem di titik-titik kritis. Menurut data terbaru PT Jasa Marga (2026), untuk menunjang kelancaran arus mudik tahun ini terdapat penambahan infrastruktur jalan tol fungsional sepanjang 120,76 km di empat titik utama. Keempatnya meliputi Tol Jakarta–Cikampek II Selatan sepanjang 54,75 km, Tol Probolinggo–Banyuwangi 49,68 km, Tol Jogja–Solo segmen Prambanan–Purwomartani 11,48 km, serta Tol Jogja–Bawen segmen Ambarawa–Bawen 4,85 km. Djoko menjelaskan, jalan tol maupun arteri di Jawa tidak dirancang untuk lonjakan volume ekstrem saat Lebaran. Karena itu pengaturan lalu lintas menjadi kunci utama. Satlantas Polresta Cirebon Jawa Barat menyiapkan sejumlah papan penunjuk arah serta rambu rambu lalu lintas lainnya untuk menunjang pelaksanaan arus mudik dan balik 2024, pada Selasa (2/4/2024) siang Ekspektasi bahwa jalan tol selalu lebih cepat justru memicu penumpukan kendaraan melampaui kapasitas. Bahkan bisa lebih parah akibat rest area yang dirancang untuk kondisi normal. Saat Lebaran, beberapa rest area kewalahan menampung lonjakan pemudik hingga berubah menjadi titik penyumbat arus yang memicu kemacetan baru. “Di samping itu, kemacetan saat mudik Lebaran sulit dihindari, maka fokus utama adalah mengendalikan arus lalu lintas dan menjamin keselamatan pemudik,” katanya. Alternatif Arteri Masyarakat memilih jalan tol demi kenyamanan dan keamanan meski risiko macet tetap tinggi. Sebaliknya, jalur alternatif menuntut kewaspadaan lebih akibat padatnya sepeda motor serta minim rambu dan penerangan. Ilustrasi Puncak Arus Mudik dan Arus Balik Bagi pemudik, sebenarnya ada alternatif menarik seperti Jalur Pantura maupun Jalur Pansela. Pada momen tertentu keduanya justru menawarkan durasi perjalanan lebih terukur dan terhindar dari antrean panjang di tol, meski pasar tumpah masih kerap mengganggu kelancaran lalu lintas. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang