Momen Lebaran 2026 kembali memperlihatkan pola 'penyakit' lama yang tak kunjung disembuhkan.Setelah arus mudik terlewati dan arus balik di depan mata, persoalan klasik kembali muncul tanpa perubahan berarti.Kemacetan panjang di gerbang tol, antrean top up kartu elektronik, rest area yang lumpuh, hingga pengemudi yang terpaksa berhenti di bahu jalan tol, semuanya seperti rutinitas tahunan yang tak pernah benar-benar diselesaikan. Bagi Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ahmad Wildan, kondisi ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan kegagalan sistem yang terus berulang."Dari tahun ke tahun selalu sama. Seolah kita tidak pernah belajar dari kesalahan," ujarnya dari keterangan yang diterima oleh detikcom.Salah satu titik krusial ada di rest area jalan tol. Secara fungsi, fasilitas ini memang disiapkan sebagai tempat istirahat. Namun saat periode mudik Lebaran, kapasitasnya jauh dari cukup untuk menampung lonjakan kendaraan.Akibatnya, rest area justru tidak lagi bisa diandalkan sebagai tempat beristirahat.Sejumlah pemudik beristirahat sambil menyantap makanan saat berbuka puasa di Rest Area KM 338 A, ruas Tol Pemalang-Batang di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (16/3/2026). Sejumlah pemudik beristirahat sekaligus berbuka puasa di area tempat istirahat tol terdekat sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tujuannya. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/bar Foto: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana PutraKetika rest area penuh, pengemudi dipaksa mencari alternatif. Dalam banyak kasus, pilihan yang diambil justru berbahaya yakni berhenti di bahu jalan tol.Padahal, lokasi tersebut jelas bukan diperuntukkan untuk berhenti, apalagi dalam kondisi lalu lintas padat dan kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi.Di sisi lain, memaksakan perjalanan tanpa istirahat juga bukan solusi. Kelelahan menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan fatal saat perjalanan jarak jauh.Artinya, sistem saat ini secara tidak langsung mendorong pengemudi berada dalam dua kondisi berisiko yaitu berhenti di tempat berbahaya, atau tetap berkendara dalam kondisi tidak prima.Ironisnya, persoalan ini terus berulang setiap tahun. Menurut Wildan, akar masalahnya bukan sekadar kurangnya kapasitas rest area. Secara desain, rest area memang tidak ditujukan untuk menampung lonjakan ekstrem seperti saat mudik Lebaran."Sekalipun waktu berhenti dibatasi hanya 10 menit, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Karena laju kedatangan kendaraan jauh lebih cepat," jelasnya.Dengan kata lain, upaya optimalisasi di dalam rest area hampir pasti menemui batasnya.Solusi yang lebih efektif justru berada di luar jalan tol. Wildan mengusulkan penerapan konsep advisory route, yakni mengarahkan pengguna jalan tol untuk beristirahat di luar tol dengan jaminan tidak ada tambahan biaya dan akses keluar-masuk yang tetap lancar.Namun, pendekatan ini membutuhkan persiapan matang. Pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan dan pemangku kepentingan terkait, perlu menyiapkan titik-titik rest area alternatif di luar tol sejak jauh hari.Tidak hanya dari sisi lokasi, tetapi juga fasilitas, daya tarik, hingga rekayasa lalu lintas agar pengguna jalan mau keluar dari tol.Tanpa informasi dan jaminan tersebut, pilihan pengemudi akan tetap terbatas.Foto: Senior Investigator KNKT, Ahmad Wildan. (M Iqbal/detikcom)Wildan pun menilai, pendekatan yang hanya mengandalkan larangan terhadap pengemudi yang berhenti di bahu jalan tidak menyelesaikan masalah."Jangan hanya melarang atau mengusir. Mereka berhenti karena tidak punya pilihan. Kalau dipaksakan jalan terus, itu juga berbahaya," tegasnya.Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan mudik bukan sekadar soal volume kendaraan, melainkan bagaimana sistem transportasi dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan dasar pengemudi, khususnya beristirahat dengan aman.Jika tidak ada perubahan pendekatan, menurut Ahmad Wildan, rest area akan terus menjadi titik lemah dalam sistem mudik nasional.