CEO Ford Jim Farley meminta pemerintah Amerika Serikat (AS) berhati-hati dalam menentukan cara produsen mobil China masuk ke pasar Negeri Paman Sam. Farley mengatakan, pesatnya perkembangan industri otomotif China telah memberikan tekanan terhadap industri otomotif di berbagai negara, termasuk Eropa. Menurut dia, kondisi Eropa dapat menjadi pelajaran bagi AS agar tidak terlambat merespons ekspansi produsen mobil China. "Kita harus sangat berhati-hati mengenai bagaimana produsen mobil China masuk ke negara kita," ujar Farley dikutip dari Paultan, Selasa (29/9/2026). Sementara itu, ketika berbicara mengenai negara-negara Eropa, Farley menilai situasinya "sudah terlambat". CEO Ford Jim Farley Kerjasama Meski memperingatkan AS mengenai ekspansi produsen mobil China, Farley mengatakan Ford tetap terbuka untuk bekerja sama dengan perusahaan asal China. Menurut dia, kerja sama dapat dilakukan apabila memberikan efisiensi dari sisi modal atau ketika Ford membutuhkan keahlian yang belum dimilikinya. "Kami juga akan bersaing langsung dengan mereka. Keduanya tidak saling bertentangan," kata Farley. Salah satu contohnya adalah kerja sama Ford dengan produsen baterai China, CATL. Ford menggunakan teknologi berlisensi dari CATL untuk memproduksi baterai dengan biaya lebih rendah di pabriknya di Michigan. Ford juga mengumumkan kerja sama dengan Geely pada Juli 2026 untuk mengembangkan mobil listrik bagi pasar Eropa. CEO Ford Jim Farley saat berkunjung ke pabrik Pacheco, Argentina. Ekspansi Mobil China Peringatan Farley tidak terlepas dari semakin besarnya peran China dalam industri otomotif global. Reuters melaporkan, China diproyeksikan mengekspor sekitar 12 juta mobil pada 2026. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 3 juta unit pada 2022. Mobil buatan China kini dipasarkan ke berbagai wilayah, termasuk Eropa dan Amerika Latin. Pertumbuhan ekspor tersebut membuat produsen mobil dari Jepang, Jerman, hingga AS semakin memperhatikan perkembangan industri otomotif China. Sementara itu, pasar AS hingga kini masih relatif tertutup bagi mobil China. AS memberlakukan pembatasan terhadap perangkat lunak kendaraan yang berasal dari China serta tarif impor yang lebih dari 100 persen. Namun, sejumlah pelaku industri otomotif AS masih mempertanyakan apakah pembatasan tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.