Bengkel mobil umum biasanya menjadi pilihan praktis pemilik kendaraan karena dinilai fleksibel menangani berbagai merek. Jam terbang mekanik yang tinggi membuat cakupan pengerjaannya tergolong luas dibanding bengkel spesialis. Meski begitu, banyaknya populasi kendaraan di Indonesia tidak lantas membuat semua merek diterima dengan tangan terbuka. Lomba adu irit DFSK Super Cab di Surabaya Berdasarkan penelusuran ke tiga bengkel umum, terdapat beberapa merek mobil dari pabrikan Cina seperti Wuling dan DFSK, serta merek Amerika Serikat seperti Ford dan Chevrolet yang kerap dihindari mekanik. Mobil China: Wuling dan DFSK Kamal, pemilik bengkel umum bernama Bengkel Kafka, di daerah CIFOR Bogor, Jawa Barat, biasa menangani mobil yang banyak dijalanan. Sebut saja dari merek-merek Jepang seperti Suzuki, Toyota, sampai Honda. Tapi dia sangat menghindari pengerjaan mobil buatan pabrikan China. Menurutnya, kendala paling krusial terletak pada ketersediaan suku cadang asli yang terbilang langka dan harus diinden dalam waktu lama. “Pabrikan China itu Wuling paling utama, paling menyulitkan. Layanan aftersales-nya seperti kurang diperhatikan. Aftermarket mungkin ada, tapi kalau yang original itu inden,” ujar Kamal kepada Kompas.com, Kamis (17/9/2026). Kamal menceritakan pengalamannya saat mencari clutch set untuk kendaraan niaga DFSK Super Cab yang sangat sulit didapat. Akhirnya, ia harus mencari persamaan komponen dari merek lain. Kendala serupa juga ia temukan pada merek Chery model lama (Chery QQ). Selain suku cadang, masalah pemrograman Electronic Control Unit (ECU) dan tata letak sensor pada mobil China dinilai sangat berbeda dibanding basis mobil Jepang yang biasa ditangani mekanik umum. Hal senada disampaikan Budi, pemilik Syafiq Auto Garage di daerah Cilendek, Bogor. Biasanya dia menerima berbagai jenis mobil, dari Honda, Nissan, Toyota, bahkan beberapa kali menggarap Chevrolet, merek Amerika. Bengkel spesialis Chevrolet Sala 3 Motor Menurut Budi, selain masalah komponen sederhana seperti kampas rem, sensor noken as, hingga hidrolik bagasi yang sulit dicari, kendala teknis pada pemindaian sistem elektronik menjadi alasan utama perbaikan ditolak. “Wuling itu scan-nya dikunci, scanner universal di bengkel saya enggak bisa tembus datanya. Suku cadangnya juga susah, bahkan di bengkel resmi saja sering inden. Jadi kalau ada yang mau servis, lebih baik suruh cari spare part-nya sendiri,” kata Budi kepada Kompas.com, Jumat (18/9/2026). Merek Amerika dan Eropa Lain halnya dengan mobil pabrikan Amerika Serikat seperti Ford dan Chevrolet. Esa Motor, bengkel spesialis BMW di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan Febri, pemilik bengkel Aneka Motor di Jalan Baru, Bogor, biasa menangani servis berkala dan kaki-kaki berbagai merek mobil. Dia menyebutkan bahwa kendaraan dari negara tersebut tidak sepenuhnya ditolak, melainkan dibatasi jenis pengerjaannya. Pemilik mobil Amerika biasanya sudah menyadari rumitnya perbaikan mesin dan sistem elektrikal kendaraan mereka, sehingga mayoritas langsung menuju bengkel spesialis. “Kalau Ford atau Chevrolet, biasanya ke sini cuma sisanya saja, seperti servis berkala ganti oli, tune-up, atau spooring balancing. Rata-rata pemiliknya sudah tahu penyakit mobilnya dan bawa spare part-nya sendiri, kita tinggal terima jasa pasang,” terang Febri. Pola serupa juga diterapkan pada kendaraan keluaran Eropa. Bengkel umum biasanya membatasi pekerjaan hanya pada sektor kaki-kaki atau sekadar membantu troubleshooting awal sebelum mengarahkan pemilik kendaraan ke bengkel spesialis.