Chevrolet Orlando merupakan salah satu pilihan MPV (Multi Purpose Vehicle) asal merek Amerika Serikat yang menawarkan karakter berbeda dibanding rival-rivalnya dari Jepang. Meski populasi unit barunya sudah tidak ada lagi di Indonesia, unit bekasnya masih menjadi incaran bagi mereka yang mengutamakan kenyamanan. Salah satu pemilik Chevrolet Orlando lansiran 2016, Diansa, membagikan pengalamannya selama menggunakan mobil tersebut. Chevrolet Orlando 2016 Orlando milik Diansa tergolong istimewa atau sering disebut sebagai "barang simpanan" karena meski sudah berusia 10 tahun, jarak tempuhnya baru menyentuh angka 18.000 km. Diansa mengungkapkan bahwa alasan utamanya memilih Orlando adalah faktor desain. Baginya, bentuk bodi yang cenderung mengotak memiliki daya tarik tersendiri karena memberikan kesan gagah. "Saya suka modelnya karena kotak-kotak, sekilas jadi mengingatkan pada Jeep Cherokee Country yang legendaris," ujar Diansa kepada Kompas.com, belum lama ini. Chevrolet Orlando 2016 Dari sisi fungsionalitas, Diansa memuji kualitas kabin dan kenyamanan berkendara. Sebagai mobil dengan DNA Amerika, Orlando menawarkan kekedapan kabin yang sangat baik serta bantingan suspensi yang pas, empuk saat melewati jalan rusak namun tetap stabil di kecepatan tinggi. Menurutnya, mesin 1.8L yang digendong Orlando cukup bertenaga. Bahkan saat dipacu hingga kecepatan 140 kpj di jalan tol, mobil tetap terasa menapak dan tidak melayang. Fitur-fitur detail seperti pergerakan power window yang halus dan pancaran lampu halogen yang terang juga menjadi poin yang ia apresiasi. Chevrolet Orlando 2016 Namun, kenyamanan premium tersebut harus dibayar dengan biaya operasional yang tidak murah. Diansa mengeluhkan konsumsi bahan bakar yang tergolong boros untuk penggunaan harian. "Konsumsinya sekitar 1:9 atau 1:10 (km/liter). Jarum bensin itu terlihat sekali pergerakan turunnya kalau dipakai terus. Walaupun tangkinya besar, sekitar 65-70 liter, tetap saja rasanya was-was kalau buat harian," kata dia. Selain masalah bensin, ia juga sempat menemui kendala teknis berupa gejala mesin brebet atau pincang pada putaran rendah (RPM rendah), terutama saat mobil hendak berhenti atau melakukan pengereman. Terkait perawatan, Diansa mengaku tidak terlalu kesulitan meskipun jaringan diler resmi Chevrolet sudah menyusut. Ia lebih memilih melakukan servis rutin seperti ganti oli dan kampas rem di bengkel spesialis Chevrolet untuk menjaga kondisi mobilnya tetap prima. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang