Menjelajahi keindahan alam Indonesia dengan sepeda motor memang menjadi impian banyak pengendara motor. Namun, bagaimana rasanya bila petualangan tersebut dilakukan secara solo rider oleh warga negara asing yang membawa motornya sendiri langsung dari negaranya? Inilah kisah Rob Kirwan, seorang solo rider asal Broome, Australia Barat. Mengendarai BMW F 800 GS kesayangannya, telah menjelajahi ribuan kilometer aspal Indonesia, mulai dari Timor-Leste, Nusa Tenggara Kupang, Flores, Sulawesi, hingga kini mendarat di Pulau Jawa. Rob Kirwin, rider asal Australia yang sudah keliling Indonesia membagikan plus-minus jalur turing tanah air Kepada Kompas.com, Rob membagikan pengalamannya mengenai plus-minus serta tantangan nyata yang harus dihadapi para penunggang moge asing saat melintasi jalur turing di Indonesia. Keindahan Alam Menakjubkan dan Hangatnya Keramahan Lokal Bagi Rob, Indonesia memiliki daya tarik yang sulit ditolak oleh para petualang jalanan. Salah satu poin plus terbesar touring di Indonesia adalah kombinasi antara rute yang menantang dan pemandangan alam yang luar biasa indah. "Saya telah melewati jalan-jalan yang sangat menakjubkan. Di Flores, pemandangannya luar biasa indah. Saya bahkan sempat berkendara mendekati Gunung Lewotobi sebelum gunung tersebut meletus," kata Rob. BMW F800 GS milik Rob Kirwin, rider asal Australia yang sudah keliling Indonesia membagikan plus-minus jalur turing tanah air Selain keindahan alam, Rob sangat mengapresiasi keramahan masyarakat lokal di sepanjang rute turing. Selama motornya mengalami beberapa kali kendala teknis, ia kerap dibantu oleh warga setempat dan pemilik homestay. orang di homestay sangat ramah. Saat motor saya mogok di Labuan Bajo, mereka memperlakukan saya dengan sangat baik. Interaksi dengan warga lokal seperti ini yang membuat perjalanan terasa sangat berharga," tambahnya. "Drama" Suku Cadang Moge dan Birokrasi yang Rumit Di balik keindahan alamnya, membawa motor petualang kelas menengah-besar seperti BMW F 800 GS ke wilayah pelosok Indonesia menyisakan pekerjaan yang sangat besar, terutama dalam hal ketersediaan suku cadang (spare parts). Rob menceritakan bagaimana ia harus menunggu berminggu-minggu ketika komponen stator (spul), regulator, hingga kopling motornya mengalami kerusakan. "Cukup sulit mendapatkan penanganan dari jaringan layanan resmi di sini, dukungannya kurang membantu. Mencari suku cadang non-original pun mustahil. Pada kerusakan pertama, saya harus menunggu suku cadang dikirim dari Australia dan itu memakan waktu hingga lima minggu. Belum lagi saya harus membayar pajak ganda untuk barang yang masuk," keluh Rob. Untuk menyiasatinya, Rob harus memutar otak dengan memanfaatkan komunitas touring dan rute wisata para turis. "Saat saya butuh suku cadang lagi di wilayah Bima dan Bali, saya membuat unggahan di Facebook. Beruntung, banyak turis Australia yang berlibur ke Bali. Jadi saya menitip suku cadang tersebut kepada teman yang sedang terbang ke Bali, lalu saya mengambilnya langsung ke sana. Itu jauh lebih murah dan cepat dibanding lewat kargo resmi," ungkap mantan pengusaha jasa taman ini. Birokrasi di pelabuhan juga sempat menghambat perjalanannya. Saat pertama kali menyeberang dari Darwin ke Dili (Timor-Leste), motornya tertahan lebih dari satu minggu karena pelabuhan ditutup sementara akibat kunjungan Paus Fransiskus. Budaya Berkendara yang Agresif dan Ancaman Hewan Liar Tantangan terbesar berikutnya yang menguji nyali Rob adalah lalu lintas dan perilaku pengguna jalan di Indonesia, terutama di Pulau Jawa yang padat. Menurutnya, sopir bus dan truk di jalur lintas Jawa adalah yang paling agresif. "Jalur Jawa adalah yang paling parah. Sopir truk sering kali langsung keluar memotong jalan begitu saja hanya karena melihat yang datang 'cuma' sepeda motor. Mereka tidak tahu kalau motor besar tidak bisa mengerem atau bermanuver secepat motor bebek kecil," jelas Rob mengingat kejadian hampir celaka yang dialaminya di dekat Yogyakarta. Ia juga sempat mengalami culture shock saat memasuki kemacetan ekstrem di Jakarta. "Di Jakarta, pengendara mobil dan motor lain seolah berekspektasi bahwa motor besar ini bisa menghilang atau menyelip di celah sempit seperti skutik kecil. Padahal box motor (pannier) saya sangat lebar dan berat," guraunya sembari tertawa. Tak hanya kendaraan lain, tantangan di jalur luar kota juga datang dari hewan liar yang tiba-tiba melintas. Mulai dari anjing, kambing, hingga kawanan monyet yang kerap ditemui di jalanan pegunungan Sulawesi dan Nusa Tenggara. Tidak Ada Penyesalan, Lanjut ke Sumatera Meski harus menguras tabungan lebih dalam karena biaya perawatan motor yang mahal selama di Indonesia, Rob mengaku sama sekali tidak menyesali perjalanannya. Setelah menyelesaikan rute di Pulau Jawa, Rob bersiap menyeberang ke Pulau Sumatra, sebelum akhirnya mengapalkan motornya menuju Malaysia dan Thailand. "Saya menghabiskan terlalu banyak uang di Indonesia, jadi sepertinya saya harus menunda rencana ke Eropa dan kembali ke Australia untuk bekerja lagi setelah ini. Tapi petualangan di Indonesia ini sungguh luar biasa dan tidak ada duanya," kata Rob. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang