Berkeliling Indonesia menggunakan kendaraan pribadi menjadi impian banyak pecinta perjalanan darat. Kebebasan menentukan tujuan, menikmati panorama alam, hingga bertemu masyarakat di berbagai daerah menjadi daya tarik utama road trip, terlebih jika dilakukan dengan campervan yang dapat difungsikan sebagai tempat tinggal selama perjalanan. Meski terlihat menyenangkan, perjalanan lintas pulau ternyata tidak selalu berjalan mulus. Beragam tantangan di lapangan harus dihadapi, mulai dari persoalan administrasi saat membeli bahan bakar minyak (BBM), mahalnya ongkos penyeberangan antarpulau, hingga dugaan pungutan liar (pungli) di sejumlah lokasi. Pengalaman tersebut dirasakan Rahmi Syofia atau yang akrab disapa Mimi Campervan. Solo traveler ini menjelajahi Kalimantan dan Sulawesi menggunakan Hyundai H-1 yang telah dimodifikasi menjadi campervan. Perjalanannya dimulai dari Pulau Jawa sebelum menyeberang ke Kalimantan Timur. Awalnya, Mimi mengira barcode atau QR code BBM bersubsidi dari Pertamina yang dimilikinya sudah cukup untuk membeli solar di mana pun selama perjalanan. Hyundai H1 yang digunakan Mimi Campervan untuk keliling Kalimantan dan Sulawesi Terkendala Aturan Pembelian Solar Namun, kenyataan di lapangan berbeda. Saat hendak mengisi solar di salah satu SPBU di Kalimantan Timur, dekat Balikpapan menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), dirinya tidak diperbolehkan membeli BBM meski stok solar masih tersedia. "Kondisinya, aku punya barcode BBM bersubsidi. Jadi, aku pikir aku bisa melakukan perjalanan dengan campervan di mana pun," ujar Mimi, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Setelah mengantre, petugas SPBU menjelaskan bahwa pembelian solar tidak cukup hanya menggunakan QR code, tetapi juga memerlukan kartu Brizzi yang telah terdaftar sesuai pelat nomor kendaraan. "Aku datang ke salah satu SPBU di Kalimantan Timur, dekat Balikpapan, arah ke IKN. Aku sudah antre, pas giliranku, solarnya masih ada, tapi aku tidak diperbolehkan, kata petugasnya harus punya kartu uang elektronik Brizzi, yang terdaftar pelat nomor mobil kita," kata Mimi. Hyundai H1 yang digunakan Mimi Campervan untuk keliling Kalimantan dan Sulawesi Menurut Mimi, informasi tersebut baru diketahuinya saat berada di lokasi. QR code yang dimilikinya ternyata tidak dapat langsung digunakan tanpa memenuhi persyaratan tambahan tersebut. "Nah, untuk mendapatkan kartu Brizzi itu harus daftar dulu ke BRI. Sebelum ke BRI, ke Dishub dulu. Tapi, prosesnya panjang, dan ketika aku tanya, itu prosesnya seminggu atau dua minggu juga. Kalau mau cepat, bayar katanya," ujar Mimi. Kondisi itu membuat perjalanan harus disesuaikan dengan ketersediaan BBM non-subsidi yang tentu berdampak pada biaya operasional selama menjelajah lintas pulau. Biaya Kapal Hingga Dugaan Pungli Selain persoalan bahan bakar, tantangan lain yang dirasakan Mimi adalah tingginya tarif penyeberangan menggunakan kapal feri maupun kapal angkut kendaraan. Menurut dia, biaya tersebut menjadi salah satu pengeluaran terbesar selama melakukan road trip menggunakan campervan. "Contoh, kemarin itu Bau-bau ke Makassar harganya Rp 3,6 juta, dari Kalimantan ke Sulawesi Rp 2,8 juta, Gorontalo ke Ampana saja Rp 2,1 juta," kata Mimi. Besarnya biaya penyeberangan membuat anggaran perjalanan membengkak, terutama bagi pelancong yang menggunakan kendaraan berukuran besar seperti campervan. Di luar persoalan biaya, Mimi juga mengaku beberapa kali menemui dugaan pungutan liar di sejumlah lokasi. Menurutnya, ada oknum yang mengatasnamakan retribusi, tetapi tidak dapat menunjukkan bukti pembayaran resmi. Mimi menambahkan, praktik seperti itu membuat perjalanan terasa kurang nyaman karena pengguna jalan tidak memperoleh kejelasan mengenai dasar pungutan yang diminta.