Empat tahun setelah diluncurkan di Indonesia, Hyundai Stargazer masih menjadi salah satu Low MPV yang menawarkan paket berbeda dibanding para pesaingnya. Bukan hanya dari sisi desain, tetapi juga kelengkapan fitur keselamatan aktif atau Advanced Driver Assistance System (ADAS) yang saat itu masih tergolong langka di kelasnya. Mulyadi Mishel menjadi salah satu pengguna awal Stargazer Prime 2022. Tergabung dalam komunitas HYSTORI (Hyundai Stargazer Owner Indonesia), ia langsung memesan mobil sejak masa peluncuran dan hingga kini masih mengandalkannya sebagai kendaraan utama. Tampilan Hyundai Stargazer yang mejeng di GIIAS 2024. Selama pemakaian, kesan positif yang ia rasakan bukan hanya soal ADAS, tetapi juga pada sektor kenyamanan berkendara, efisiensi bahan bakar, hingga minimnya kendala selama penggunaan. "So far so good, cuma mobil ini bikin tidak peka karena terlalu banyak dibantu ADAS. Ini dalam arti positif ya, karena memang benar-benar bagus ADAS-nya," ujar Mishel kepada Kompas.com, Jumat (17/7/2026). Rasa Berkendara dan Konsumsi BBM Hyundai membekali Stargazer dengan mesin bensin 1.5 liter MPI empat silinder berkapasitas 1.497 cc yang menghasilkan tenaga 113 tk pada 6.300 rpm dan torsi 144 Nm pada 4.500 rpm. Tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi Intelligent Variable Transmission (IVT). Menurut Mishel, karakter mesin dan transmisinya menjadi salah satu alasan ia masih betah menggunakan Stargazer hingga sekarang. "Mesinnya enak, transmisinya juga enak. Ada Hill Start Assist juga, jadi dipakai di tanjakan nyaman," katanya. Ia menilai transmisi IVT bekerja halus sehingga mobil terasa nyaman digunakan, baik untuk mobilitas harian maupun perjalanan luar kota. Hal itu juga didukung konsumsi bahan bakar yang efisien. Saat mengikuti kegiatan komunitas menuju Sukabumi, ia mengaku mampu mencatat konsumsi sekitar 16 kilometer per liter (kpl), meski rute yang dilalui didominasi tanjakan dan turunan. "Dari full tank pulang-pergi habisnya enggak sampai setengah tangki," ujarnya. Meski begitu, ia mengakui respons mesin cukup dipengaruhi kualitas bahan bakar. Akselerasi terasa lebih responsif ketika menggunakan bensin dengan angka oktan yang lebih tinggi. Tampilan kemudi Hyundai STARGAZER yang modern, salah satu MPV Hyundai. ADAS Jadi Nilai Lebih Di luar karakter mesin, aspek yang paling membedakan Stargazer adalah kelengkapan fitur Hyundai SmartSense. Fitur seperti Blind Spot Collision Warning (BCW) membuatnya merasa lebih percaya diri saat berpindah jalur. Bahkan, ia mengaku sempat kesulitan beradaptasi ketika harus menggunakan mobil pengganti yang tidak memiliki fitur tersebut. "Waktu pakai mobil lain yang enggak ada blind spot monitoring, saya langsung kagok. Biasanya mau pindah jalur tinggal lihat indikator, sekarang harus balik lagi cek spion dan nengok kanan-kiri," katanya. Pengalaman lain terjadi saat melakukan perjalanan dari Salatiga menuju Malang dalam kondisi hujan deras. Ketika mobil melintasi genangan air di jalan tol dengan kecepatan sekitar 80-90 kpj, kombinasi Lane Keeping Assist (LKA) dan Lane Following Assist (LFA) membantu menjaga kendaraan tetap berada di lajurnya. "Untung dua fitur itu aktif, jadi mobil tetap dijaga di tengah lajur," ujarnya. Meski begitu, menurut Mishel, pengemudi tetap perlu memahami karakter masing-masing fitur karena LKA dan LFA dapat memberikan koreksi setir yang cukup agresif apabila diaktifkan secara bersamaan. Hyundai Stargazer Prime 2023 Pilar A dan Bluelink Jadi Catatan Di balik berbagai kelebihannya, Mishel menilai Stargazer masih memiliki beberapa catatan. Salah satunya adalah ukuran pilar A yang cukup besar sehingga menimbulkan blind spot saat berbelok atau melakukan putar balik. "Beberapa kali saya baru sadar ada kendaraan atau pejalan kaki karena posisinya sempat tertutup pilar A," katanya. Selama hampir empat tahun pemakaian, ia juga mengaku tidak menemui banyak kendala berarti. Perawatan rutin hanya penggantian oli mesin dan filter oli setiap 5.000 kilometer, sementara komponen di luar servis berkala yang pernah diganti hanya water pump. aman saja," ujarnya. Namun, ia merasa bahwa modul Bluelink cukup sensitif terhadap benturan keras. Dugaan tersebut muncul setelah mobilnya tertimpa pohon saat terparkir hingga kaca depan pecah. Setelah kejadian itu, fitur Bluelink tidak lagi berfungsi normal. "Ini baru hipotesis saya, mungkin modulnya cukup sensitif terhadap getaran keras," ujarnya. Tampilan bodi belakang Hyundai STARGAZER yang modern. Kesimpulan Setelah hampir empat tahun digunakan, Hyundai Stargazer masih memberikan kesan positif bagi Mishel. Karakter mesin dan transmisi yang halus, konsumsi bahan bakar yang efisien, serta kelengkapan fitur Hyundai SmartSense menjadi aspek yang paling sering dirasakan manfaatnya dalam penggunaan sehari-hari. Di sisi lain, ia mencatat masih ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, seperti blind spot akibat pilar A yang cukup besar serta kerentanan modul Bluelink terhadap benturan keras. Meski masih memiliki catatan, Mishel menilai kekurangan tersebut belum mengurangi kenyamanan maupun kepercayaannya menggunakan Stargazer sebagai kendaraan harian maupun untuk perjalanan jarak jauh.