Siang itu, waktu baru menunjukkan pukul 13.30. Santi, ibu muda yang baru saja menjemput putranya, Daffa (3), dari tempat les di pinggiran kota membuka pintu mobil yang sudah terparkir di luar sejak pagi. Terpapar sinar Matahari selama setengah hari, kabin mobil pun terasa seperti oven. Daffa langsung meringis dan menolak untuk duduk di dalam mobil karena suhu yang terlalu panas. Kondisi seperti itu mungkin pernah dialami oleh banyak pemilik kendaraan. Di Indonesia, iklim tropis membuat suhu pada siang hari lebih tinggi, terutama ketika matahari sedang terik dan ruang parkir teduh sulit ditemukan. Mobil yang diparkir di luar ruangan selama berjam-jam akhirnya seperti “menyimpan” panas. Sebab, kaca dan bodi kendaraan terus menerima paparan matahari. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, sepanjang 2025 suhu udara Indonesia beberapa kali berada di atas kondisi normal. Misalnya, pada Maret 2025, rata-rata suhu udara tercatat sekitar 27 derajat Celsius. Suhu ini lebih hangat jika dibandingkan normal klimatologisnya dengan anomali positif atau lebih panas dari rata-rata. Menutup 2025, BMKG juga mencatat suhu rata-rata pada Desember 2025 masih sedikit lebih tinggi dari normal ketimbang periode 1991–2020. Untuk 2026, BMKG memproyeksikan suhu tahunan Indonesia berkisar 25–29 derajat Celsius dengan sebagian wilayah diperkirakan lebih hangat ketimbang normal. Suhu kabin bisa lebih panas dari suhu luar Masalahnya, suhu di dalam kabin mobil bisa lebih tinggi dari suhu luar. Sebuah artikel di jurnal Solar Energy (2023) menjelaskan bahwa saat kendaraan diparkir di bawah sinar Matahari langsung, suhu kabin dapat naik sangat cepat. Bahkan, pada kondisi hari yang benar-benar cerah, suhu kabin kendaraan yang terus-menerus terpapar sinar Matahari disebut bisa mencapai sekitar 80 derajat Celsius. Lonjakan suhu panas itu bisa terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Masih dari sumber yang sama, sekitar 80 persen kenaikan suhu terjadi pada 15–30 menit pertama. Artinya, meski baru ditinggal sebentar untuk urusan antar-jemput atau belanja, kabin mobil bisa cepat berubah menjadi “ruang panas” yang membuat awal perjalanan jadi tidak nyaman, terutama bagi anak kecil. Atur kenyamanan mobil dari genggaman Pada kondisi seperti itu, kenyamanan berkendara tidak bisa didapat secara langsung sejak mesin dinyalakan. Banyak pengendara, terutama keluarga dengan anak kecil, membutuhkan kabin mobil yang sudah lebih sejuk sebelum mereka membuka pintu mobil. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Hyundai menghadirkan Bluelink sebagai teknologi konektivitas yang menghubungkan kendaraan dengan pemilik melalui aplikasi di smartphone. Tampilan dasbor dan interior Hyundai STARGAZER Cartenz. Lewat Bluelink, pengguna dapat mengakses dan mengontrol sejumlah fungsi kendaraan dari jarak jauh selama mobil terhubung dengan jaringan. Pada Hyundai STARGAZER Cartenz misalnya, melalui fitur Remote Start & Stop Climate Control, Bluelink memungkinkan pengguna menyalakan atau mematikan mesin serta mengatur sistem pendingin udara dari jarak jauh. Dengan begitu, proses mendinginkan kabin bisa dilakukan lebih awal. Melalui fitur tersebut pula, pengendara juga dapat mengaktifkan pemanas kaca depan, pemanas kaca spion samping, dan pemanas kaca belakang, serta mengatur suhu kursi pengemudi dan penumpang untuk kenyamanan. Sebagai contoh, AC pada STARGAZER Cartenz sudah bisa dinyalakan melalui aplikasi Bluelink saat pengguna masih berada di dalam gedung kantor, pusat perbelanjaan, atau menjemput anak. Jadi, ketika pintu mobil dibuka, kabin sudah berada pada suhu yang lebih nyaman. Perjalanan pun dapat dimulai tanpa perlu menunggu AC bekerja dari nol. Relevansi fitur itu juga tecermin dari kebiasaan pengguna. Berdasarkan survei internal Hyundai pada Desember 2025, Remote Engine Start/Stop menjadi fitur yang paling sering digunakan dengan 60 persen pemilik kendaraan memanfaatkannya secara rutin. Hal tersebut menunjukkan bahwa fitur menyalakan mesin dari jarak jauh bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari kebutuhan berkendara harian, terutama di negara beriklim tropis, seperti Indonesia. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi kendaraan dirancang untuk menjawab kondisi nyata yang dihadapi pengendara sehari-hari. Di tengah iklim tropis dan keterbatasan ruang parkir teduh, fitur konektivitas, seperti Remote Start & Stop Climate Control pada Hyundai Bluelink, menghadirkan solusi praktis yang dapat digunakan, bahkan sebelum perjalanan dimulai.