Selama tiga bulan terakhir, Antonius Gunadi menghabiskan hari-harinya dengan Aion Hyptec HT, SUV listrik premium dari merek GAC Aion di Indonesia. Keputusan membeli mobil listrik asal China tersebut datang tanpa banyak rencana, meskipun sebelumnya ia sudah mempertimbangkan berbagai opsi. Ia mengaku sempat terpikir untuk membeli model lain yang lebih populer, namun berbagai hitungan praktis membuat pikirannya berubah. Cerita konsumen Hyptec HT, Antonius Gunadi “Karena saya lebih sering nyetir sendiri, terus saya waktu itu mikir, kalau hybrid atau plug-in hybrid kan pajaknya lumayan juga, tidak bebas ganjil-genap juga. Saya akhirnya last minute ngambilnya Hyptec HT,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (16/11/2025). Kenyamanan Berkendara Antonius bercerita, perjumpaannya dengan Hyptec HT bermula dari unggahan di media sosial. Tampilan mobil yang berbeda membuatnya penasaran, hingga akhirnya ia menjadwalkan untuk test drive. “Begitu datang test drive-nya, berasa banget bedanya. Pertama di bagian kabin passenger, itu luas banget. Saya tinggi 180-an cm, jadi pas duduk belakang itu lega sekali,” katanya. Kesan itu lantas diperkuat oleh karakter berkendara yang menurutnya nyaman. Belum lagi, kendaraan diperkuat oleh aftersales yang berada di bawah jaringan Indomobil Group. “Yang bawa Hyptec kan Indomobil. Jadi lebih yakin dan lebih secure. Bengkel sudah tersebar, terus Aion juga mau diproduksi di Purwakarta,” ujarnya. Test drive Hyptec HT Sehari setelah test drive, ia langsung memutuskan untuk membawa pulang mobil tersebut. Meski dimensinya tampak bongsor, yaitu panjang 3.935 mm, lebar 1.920 mm, dan tinggi 1.700 mm, Antonius merasa Hyptec HT justru terasa lincah saat digunakan sehari-hari. Di jalan sempit, tikungan kecil, hingga putaran balik di tengah kota, manuvernya terasa ringan. “Kalau u-turn pun enak banget, enggak susah. Padahal kelihatannya besar. Tapi pas dibawa ternyata enggak ribet,” katanya. Menurutnya, panjang mobil ini bahkan tak jauh dari sedan Lexus yang ia miliki, walaupun enggan untuk menyebutkan secara perinci modelnya. “Lebar mobil aja yang terlihat besar. Tetapi ketika muter, parkir, manuver di mal-mal kecil pun enggak masalah. Jarak pandangnya bagus, tidak banyak blindspot," ucap dia. Fitur Canggih Antonius juga terbantu oleh fitur semi-otonom yang membuat perjalanan, terutama di kemacetan, terasa lebih ringan. Interior Hyptec HT Mobil mampu mengikuti kendaraan di depan dan menjaga ritme dengan stabil. “Sewaktu macet bisa follow mobil depan. Di tol juga bisa ikutin. Walaupun belum berani lepas semuanya, tapi membantu bikin lebih relax,” tuturnya. “Kita bisa lihat lokasi kendaraan, nyalakan AC dulu dari jauh, melihat rute yang pernah dilewati. Itu oke banget, terasa premium dengan harga yang ditawarkan (Rp 691 jutaan),” kata Antonius. Catatan Kekurangan Meski demikian, ia mengakui Hyptec HT tidak luput dari kekurangan. Salah satunya, sistem operasional yang sepenuhnya berbasis layar, sehingga membutuhkan penyesuaian dan terasa kurang intuitif. “Untuk mematikan mesin aja mesti pencet monitor beberapa langkah. Ada shortcut-nya sih, tapi kan tetap disarankan lewat headunit. Mungkin saya belum terbiasa,” kata dia. Kemudian, air conditioner (AC) di kursi belakang juga kurang cepat mendinginkan kabin. “Kalau ditunggu lama akhirnya oke, tapi awal-awal kurang dingin entah kenapa," lanjutnya. Keluhan terbesar datang dari koneksi Apple CarPlay, yang menurutnya jauh dari konsisten. Baik lewat Bluetooth maupun kabel, hasilnya sering mengecewakan. “Bluetooth sering nyambung-putus. Pakai kabel pun kadang enggak detect icon CarPlay di layar. Mungkin dari 10 kali coba, hanya 7 yang berhasil,” keluhnya. “Peta bawaan mobil bagus banget, detail. Tapi saya merasa tidak update sehingga apabila melakukan perjalanan saya masih tetap percayakan ke Google Maps. Terus juga saya biasa pakai musik lewat ponsel, jadi kalau Apple CarPlay tidak connect, susah juga," tambah Antonius. Tidak sampai di sana, pada minggu-minggu awal ia mengaku bahwa sensor depan juga sempat bertingkah aneh. “Kadang bunyi sendiri karena mendeteksi sesuatu, padahal nggak ada apa-apa. Dibawa ke bengkel enggak ketemu masalahnya. Tapi setelah dipakai beberapa waktu, hilang sendiri. Namun tetap ya, kadang muncul lagi,” ujarnya. Ia mengatakan masih menunggu pembaruan software yang dijanjikan sejak sekitar satu bulan lalu. Aion Hyptec HT di IIMS 2025. Sayangnya, hingga kini pembaruan tersebut belum tersedia. Pemasangan Home Charging Selain persoalan teknis, masalah lain yang menguras tenaga adalah pemasangan home charger PLN. Selama tiga bulan pemakaian EV, ia sudah mengajukan permohonan, menelepon, hingga mendatangi kantor PLN, tetapi belum ada progres berarti. “Padahal katanya proses pengajuan dan pemasangan tiga hari,” ucapnya. Tanpa charger rumah, ia masih bergantung pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tentu saja kurang praktis untuk penggunaan harian. “Terlepas dari itu, sebagai user, saya kasih nilai 8 dari 10 untuk Hyptec HT. User experience-nya oke,” ujarnya. Kesimpulan Menurutnya, Hyptec HT menawarkan kenyamanan, ruang yang lapang, dan fitur modern yang mendukung aktivitas harian. Ia hanya berharap aspek teknis dan infrastruktur pendukung bisa segera menyusul kualitas mobilnya. “Bagaimanapun juga user yang merasakan. Jadi perlu diperhatikan. Mobilnya bagus, tapi dukungan sistem dan infrastruktur harus ikut siap,” katanya. Kelebihan Kabin sangat lega dan nyaman untuk penumpang depan-belakang. Manuver lincah meski bodinya besar, mudah untuk u-turn dan parkir. Fitur semi-otonom membantu saat macet dan perjalanan jarak jauh. Sistem konektivitas aplikasi dinilai lengkap dan terasa premium. Kekurangan Banyak fungsi berbasis layar sehingga beberapa operasi terasa tidak intuitif. AC belakang lambat mendinginkan kabin. Apple CarPlay sering bermasalah baik via kabel maupun Bluetooth. Sensor depan dan pembaruan software masih kurang konsisten. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.