Populasi kendaraan di jalanan Indonesia saat ini tidak lagi didominasi merek asal Jepang, China, dan Eropa saja. Mobil-mobil rakitan Korea Selatan juga makin ramah ditemui. Merek seperti Hyundai sejatinya sudah hadir cukup lama di Indonesia. Model-model lama seperti Hyundai Atoz, Grand Avega, i10, hingga i20 masih menjadi pilihan menarik di pasar mobil bekas. Kendati demikian, merawat mobil Korea Selatan yang usianya sudah terbilang tua menyajikan tantangan tersendiri, khususnya saat dibawa ke bengkel umum. Hyundai i20 meluncur di Indonesia Lebih Oke Kamal, pemilik Bengkel Kafka di kawasan Cifor, Bogor, yang biasa mengerjakan mobil keluaran merek Jepang menjelaskan bahwa untuk urusan pengerjaan dan pencarian komponen, mobil Korea berusia lanjut sebenarnya masih lebih baik jika dibandingkan dengan mobil China. “Korea dibanding China masih lebih oke. Wah jauh lah, jauh. Nyari sparepart-nya masih sedikit lebih gampang,” ujar Kamal kepada Kompas.com, belum lama ini. Meski demikian, Kamal menilai pabrikan asal Korea Selatan masih kurang memberikan perhatian pada dukungan layanan purna jual untuk unit-unit yang usianya sudah menginjak belasan tahun. Suku Cadang Sering Inden Masalah ketersediaan suku cadang mobil Korea tua bahkan terasa hingga ke jaringan bengkel resmi. “Kayak Grand Avega saja tahun 2012 atau 2013, coba ke bengkel resmi cari sparepart-nya, tidak semua bengkel resmi ada. Padahal itu bengkel resmi. Kalau ada pun, mereka pasti inden, tidak ready,” kata Kamal. Kondisi tersebut amat berbanding terbalik dengan strategi penyimpanan suku cadang yang diterapkan pabrikan Jepang, salah satunya Honda. Kamal mengambil contoh untuk model sedan lama seperti Honda City Z keluaran 2001. “Coba kalau kayak Honda. Mau pakai Honda City Z tahun 2001, ke bengkel resmi itu ada suku cadangnya. Mereka mengupayakan, menyetok walaupun istilahnya dead stock atau kurang laku. Mereka tahan dan tidak langsung dilempar ke toko sparepart,” tuturnya.