Pelaku usaha bengkel umum tengah menghadapi situasi sulit pada tahun ini. Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, jumlah kendaraan yang melakukan perawatan berkurang cukup signifikan. Tekanan ekonomi, momen masuk sekolah, hingga lonjakan harga komoditas pendukung seperti oli mesin ditengarai menjadi pemicu utama lesunya aktivitas servis kendaraan di bengkel umum. Unit Entry dan Beban Operasional Pemilik Bengkel Kafka di Kamal, Bogor, Jawa Barat, mengungkapkan bahwa penurunan konsumen terasa sangat dalam sejak pertengahan Agustus hingga September tahun ini. Pada bulan-bulan sebelumnya, grafik pemasukan bengkel masih tergolong stabil meski sempat bergejolak. Suzuki Ertiga yang turun mesin karena overheat “Penurunan mulai terasa dari pertengahan Agustus hingga September ini. Bahkan pernah sehari hanya satu unit kendaraan yang datang. Dibanding tahun lalu, periode setelah Lebaran memang sempat turun, tetapi mulai stabil di pertengahan Oktober hingga November. Tahun ini kondisinya jauh lebih berat,” ujar Kamal kepada Kompas.com, Kamis (17/9/2026). Lonjakan Harga Oli Hal serupa disampaikan oleh Febri, pemilik bengkel Aneka Motor. Menurut dia, penurunan unit entry atau jumlah kendaraan yang masuk untuk melakukan perawatan mencapai sekitar 20 persen jika dibandingkan tahun lalu. Indikator paling terlihat berada pada layanan servis rutin ganti oli yang biasanya menjadi tulang punggung pemasukan harian bengkel. “Biasanya patokan kami dari ganti oli, rata-rata bisa mencapai 15 mobil dalam sehari. Sekarang sering di bawah 10 unit, bahkan pernah hanya lima sampai tujuh mobil saja. Penurunannya lumayan berasa,” kata Febri kepada Kompas.com, Jumat (18/9/2026). Febri menjelaskan, salah satu pemicu utama keengganan pemilik kendaraan melakukan servis adalah lonjakan harga pelumas. Imbas gejolak harga minyak dunia, produsen oli menaikkan harga secara bertahap seusai momen Lebaran. “Harga oli naik secara bertahap, ada yang naik lima persen tiap bulan, ada juga yang 10 persen per dua bulan. Kalau dikumpulkan, total kenaikannya bisa mencapai 20–30 persen per liter. Sementara untuk suku cadang aftermarket kenaikannya masih dalam batas wajar, tidak separah oli,” kata Febri. Bengkel umum Daya Beli Tertahan Sementara itu, Budi, pemilik Syafiq Auto Garage, menuturkan bahwa meski bengkelnya tidak sampai benar-benar kosong, penurunan volume kendaraan yang datang tetap terasa. “Kalau sepi total sebenarnya tidak, setiap hari masih ada saja mobil yang masuk untuk perbaikan. Namun memang volumenya berkurang dibanding sebelumnya. Penurunan itu paling terasa pasca-kenaikan harga oli,” ujar Budi. Kombinasi antara tingginya biaya perawatan akibat kenaikan harga oli dan beban pengeluaran rumah tangga seperti tahun ajaran baru sekolah pada pertengahan tahun membuat masyarakat menunda perawatan berkala kendaraan mereka. Para pelaku usaha bengkel umum kini hanya bisa mengencangkan sabuk sembari berharap pasar otomotif dan daya beli masyarakat kembali stabil pada kuartal akhir tahun ini.