Penjualan Suzuki S-Presso sebagai mobil perkotaan bergaya sport utility vehicle (SUV) dengan harga terjangkau, menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan dari pabrik ke diler atau wholesales S-Presso sepanjang 2025 tercatat sebanyak 1.572 unit. Angka ini turun tajam dibandingkan 2024 yang mencapai 2.895 unit, serta 2023 sebanyak 3.617 unit. Sejalan dengan penurunan volume, kontribusi mobil yang diimpor dari India ini terhadap total penjualan Suzuki juga ikut susut. Pada 2025, porsi S-Presso hanya 2,37 persen dari total wholesales merek yang mencapai 66.345 unit. Sebagai pembanding, kontribusi S-Presso sepanjang 2024 masih berada di level 4,33 persen. Bahkan pada 2023, porsinya sempat mencapai sekitar 4,4 persen dari total penjualan Suzuki. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski total wholesales Suzuki relatif stabil, peran S-Presso dalam struktur penjualan perusahaan semakin mengecil. Suzuki S-Presso Padahal awalnya, S-Presso diproyeksikan untuk mengisi celah pasar yang ditinggalkan Suzuki Wagon R. Model ini kerap menjadi andalan pabrikan di segmen LCGC atau mobil murah, sebelum akhirnya disuntik mati. Namun, seiring waktu, posisi S-Presso di pasar tidak semudah yang dibayangkan meski masih dipasarkan mulai Rp 172 juta OTR DKI Jakarta, yang menempatkannya sebagai salah satu mobil termurah di pasar nasional saat ini. Menanggapi kondisi tersebut, Deputy Sales & Marketing Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Dony Ismi Saputra, menjelaskan bahwa strategi penjualan Suzuki saat ini memang lebih difokuskan pada model-model yang diproduksi di dalam negeri. “Karena fokus penjualan kami terhadap model-model yang kami produksi di Indonesia. Itulah fokus penjualan kami. Tulang punggung penjualan kami adalah model-model yang kami produksi di sini,” ujar Dony kepada Kompas.com belum lama ini. Ia menambahkan, sejak awal S-Presso memang diposisikan sebagai produk pelengkap dengan karakter berbeda dibandingkan model entry-level pada umumnya. “Sebenarnya, kalau kita bicara S-Presso ini kan memberikan penawaran yang totally different. Kalau entry-level model kan rata-rata hatchback,” kata Dony. Melalui S-Presso, Suzuki mencoba menawarkan alternatif city car dengan tampilan menyerupai SUV yang ringkas dan memiliki posisi duduk lebih tinggi. “Tapi S-Presso ini kami tawarkan sebagai city car dengan SUV lookalike, compact, dan agak tinggi. Jadi sebenarnya membuka pasar baru,” ujarnya. “Jadi, yang kami tawarkan itu adalah pilihan beragam yang bisa dinikmati masyarakat Indonesia. Apakah penawaran ini diterima dengan baik atau tidak, kembali lagi ke pasar,” ucapnya. Suzuki S-Presso di GJAW 2024 Meski kontribusinya terus menurun, Suzuki menilai pasar untuk S-Presso masih tetap ada hingga saat ini. “Sampai dengan saat ini, saya melihat penawaran ini diterima dengan lumayan. Sehingga kalau kita lihat per bulannya ya ada saja sekitar 200-300 unit,” kata Dony. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang