CIKAMPEK, KOMPAS.com – Tidur di dalam mobil saat mudik kerap dianggap sebagai solusi praktis untuk melepas lelah, terutama ketika tidak mendapatkan tempat di rest area. Pada mobil hybrid, anggapan ini semakin kuat karena kendaraan bisa menyala tanpa mengandalkan mesin bensin. Namun, benarkah kondisi tersebut sepenuhnya aman? Personel kepolisian mengatur arus lalu lintas kendaraan pemudik yang akan memasuki rest area KM 429A Ungaran, Tol Trans Jawa Semarang-Solo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (15/3/2026). Pada H-6 Lebaran, arus kendaraan dari arah Jakarta dan Jawa Barat yang melalui Tol Trans Jawa Semarang-Solo ruas Ungaran, Kabupaten Semarang menuju sejumlah wilayah di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur hingga Minggu (15/3) pukul 19.00 WIB terpantau ramai lancar. ANTARA FOTO/Aji Styawan/YU Marketing Division Head Auto2000 Nur Imansyah Tara menjelaskan, mobil hybrid memang dapat beroperasi tanpa mesin dalam kondisi tertentu, yakni saat daya baterai masih mencukupi. “Kalau baterainya masih ada, mobil bisa menyala tanpa mesin, sehingga tidak menghasilkan karbon monoksida dari asap knalpot,” ujar Tara kepada Kompas.com di Cikampek, Senin (16/3/2026). Meski demikian, kondisi tersebut tidak berlangsung terus-menerus. Ketika daya baterai menurun, sistem akan otomatis menyalakan mesin bensin untuk mengisi ulang, sehingga potensi gas buang tetap ada. Artinya, risiko tidak sepenuhnya hilang. Menurut Tara, penggunaan mobil dalam kondisi diam dengan sistem tetap aktif, termasuk untuk menyalakan AC, tetap harus disikapi dengan hati-hati. Salah satu hal yang kerap diabaikan adalah pengaturan sirkulasi udara di dalam kabin. Kondisi rest area Masjid Baitul Makmur di Jalan Blora - Kunduran tepatnya di Desa Trembulrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Senin (16/3/2026) malam “Harus dipastikan sirkulasi udara tidak mengambil udara dari luar. Di mobil biasanya sudah ada pengaturannya, itu sebaiknya dimatikan agar udara hanya berputar di dalam kabin,” kata dia. Namun demikian, ia menegaskan bahwa tidur di dalam mobil dalam waktu lama, baik mobil hybrid maupun non-hybrid, tetap tidak disarankan. Selain potensi paparan gas buang yang beracun, terdapat faktor lain yang bisa menimbulkan risiko, seperti kondisi kabin hingga performa komponen kendaraan. “Ketika mobil aktif, tentu tetap ada komponen yang berkerja seperti baterai (pada konteks ini). Terlebih kalau suhu luar sangat terik. Begitu juga untuk mobil listrik berbasis baterai, ya. Jadi untuk risiko tetap ada,” katanya. Oleh karena itu, Tara menyarankan agar pengemudi tidak menjadikan kabin mobil sebagai tempat istirahat utama, terlebih untuk tidur dalam durasi panjang. “Kalau memang sudah lelah, sebaiknya istirahat di tempat yang semestinya, seperti rest area, posko siaga, atau tempat istirahat yang lebih aman,” kata dia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang