Di dunia otomotif, ada anggapan bahwa helm yang sudah pernah terjatuh, sekecil apa pun benturannya, harus diganti. Alasannya, struktur pelindung dianggap sudah rusak dan tidak lagi aman melindungi kepala. Namun, bagi pemilik helm premium yang harganya mencapai angka jutaan Rupiah, aturan ini sering kali terasa berat di kantong. Lantas, apakah helm bekas jatuh benar-benar harus langsung diganti baru? Aditya Wahyu Nugroho, pemilik bengkel spesialis servis helm 1DS Inside, menjelaskan bahwa masalah keamanan helm pasca-jatuh sangat bergantung pada peruntukan dan kondisi kerusakannya. Servis helm premium "Kalau kita berbicara untuk kebutuhan kompetisi atau racing, ya betul, helm habis jatuh tidak disarankan dipakai lagi. Tapi kalau untuk harian, masa habis jatuh langsung ganti? Apalagi kalau harga helmnya jutaan," ujar Wahyu kepada Kompas.com belum lama ini. Wahyu menilai anggapan harus selalu ganti baru terkadang lebih ke arah strategi pemasaran. Menurutnya, poin penting yang harus diperhatikan adalah kondisi komponen interior, terutama EPS (Expanded Polystyrene). "Kita harus lihat jatuhnya seperti apa. Kalau benturannya lumayan kencang sampai EPS-nya retak atau peang, itu memang harus diganti. Tapi kalau cuma jatuh 'glosor' atau terseret dan hanya lecet luarnya saja, itu masih bisa diperbaiki," katanya. Meskipun tampilan luar bisa dibuat mulus kembali melalui proses repair, Wahyu memberikan peringatan keras jika struktur shell dan EPS sudah mengalami keretakan. Helm yang sudah retak strukturnya, terutama di area rentan seperti bagian samping atau pelipis, sudah kehilangan kekuatannya. "Kalau sudah ada crack di shell, meskipun di-repair tampilannya jadi bagus lagi, itu bahaya. Kalau dipakai dan pengendaranya jatuh lagi, helm bisa belah karena kekuatannya sudah tidak ada," tutur Wahyu. Kesimpulannya, helm bekas jatuh tetap bisa aman digunakan untuk harian selama kerusakan hanya sebatas kosmetik pada cat atau baret halus. Namun, jika ditemukan retakan pada cangkang atau perubahan bentuk pada EPS di bagian dalam, maka tidak ada tawar-menawar lagi, helm tersebut sudah tidak layak pakai demi keselamatan nyawa. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang