JAKARTA, KOMPAS.com – Perjalanan jauh seperti saat mudik atau arus balik kerap membuat pemudik kelelahan di tengah jalan. Tak sedikit yang memilih beristirahat dengan tidur di dalam mobil demi menghemat biaya penginapan atau sekadar menunggu kondisi lalu lintas lebih lengang. Demi alasan keamanan, mobil biasanya tetap dalam kondisi menyala dengan AC aktif dan pintu terkunci rapat. Menurut Gunawan, pemilik Premium99 AC, kebiasaan tersebut sebenarnya menyimpan risiko yang tidak disadari, terutama terkait kualitas udara di kabin dan potensi paparan gas berbahaya. “Banyak yang mengira selama AC menyala itu aman, padahal kalau mobil dalam kondisi diam dan mesin hidup lama, ada kemungkinan gas buang seperti karbon monoksida masuk ke kabin, apalagi kalau ada kebocoran atau sirkulasi udara kurang baik,” kata Gunawan kepada Kompas.com, Kamis (25/3/2026). Gunawan menjelaskan, karbon monoksida (CO) merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga sulit dideteksi oleh manusia. Dalam kondisi tertentu, gas ini bisa masuk ke kabin melalui celah-celah, terutama jika sistem pembuangan tidak optimal atau mobil berada di area tertutup. Selain itu, penggunaan AC dalam kondisi mobil tertutup rapat tanpa sirkulasi udara juga bisa menyebabkan kualitas oksigen di kabin menurun. Ilustrasi AC mobil kurang dingin Meski AC tetap menghasilkan udara dingin, bukan berarti udara tersebut segar atau kaya oksigen. “AC itu hanya mensirkulasikan udara yang ada di kabin. Kalau tidak ada pertukaran udara dari luar, lama-lama kadar oksigen bisa menurun dan membuat penumpang merasa pusing atau mengantuk berlebihan,” ujarnya. Risiko ini semakin besar jika mobil diparkir di area yang minim ventilasi, seperti di dalam garasi tertutup, terowongan, atau lokasi dengan banyak kendaraan lain yang juga menyalakan mesin. Dalam kondisi tersebut, konsentrasi gas buang di sekitar kendaraan bisa meningkat dan berpotensi masuk ke kabin. Gunawan menyarankan agar pemudik tidak menjadikan tidur di dalam mobil dengan mesin menyala sebagai kebiasaan, terutama dalam durasi yang lama. Jika memang harus beristirahat, sebaiknya cari tempat yang aman dan memiliki sirkulasi udara terbuka. “Kalau terpaksa istirahat di mobil, lebih baik mesin dimatikan dan jendela dibuka sedikit untuk menjaga sirkulasi udara. Atau manfaatkan rest area yang menyediakan fasilitas istirahat yang lebih layak,” kata dia. Selain itu, penting juga untuk memastikan kondisi kendaraan tetap prima, terutama pada bagian sistem pembuangan dan karet-karet pintu yang berfungsi menjaga kabin tetap kedap. Pemeriksaan rutin bisa membantu meminimalkan risiko kebocoran gas ke dalam kabin. Dengan memahami potensi bahaya ini, pemudik diharapkan bisa lebih bijak dalam menentukan cara beristirahat selama perjalanan, sehingga keselamatan tetap menjadi prioritas utama. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang