SOLO, KOMPAS.com - Mobil hybrid menggunakan kombinasi mesin bensin dan motor listrik. Sistem ini bekerja secara otomatis untuk mengatur penggunaan energi antara bahan bakar dan baterai. Selain itu, mobil ini dibekali baterai sebagai penampung daya listrik selaku sumber energi. Komponen ini bisa mengalami peningkatan suhu selama pemakaian. Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan secara teknis, mobil HEV tidak membutuhkan waktu istirahat khusus untuk kendaraannya. “Sistem pendinginan mesin dan baterai sudah dirancang untuk bekerja dalam perjalanan panjang tanpa masalah, selama sistem pendingin bekerja normal,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, Sabtu (14/3/2026). Tak ada kewajiban khusus untuk pengguna mobil hybrid berhenti setiap 2 hingga 3 jam selama perjalanan mudik. Meski demikian, anggapan berhenti dapat membantu menurunkan suhu mesin, motor listrik, serta baterai memang benar, tapi bukan kewajiban. Ilustrasi servis mobil di diler resmi Honda. Istirahat sejenak di rest area justru menjadi kebutuhan pengendara agar dapat mengurangi kelelahan dan meningkatkan konsentrasi, sehingga perjalanan menjadi lebih aman. “Baterai mobil hybrid akan didinginkan oleh sistem yang sudah tersedia di masing-masing kendaraan, sehingga aman dipakai dalam durasi panjang,” ucap Jayan. Terlepas dari itu, suhu baterai memang akan meningkat selama pemakaian. Cara berkendara agresif, muatan berat dan durasi akan membuat baterai bekerja ekstra dan mengalami panas. “Bila semua sistem normal, harusnya tidak akan overheating, maka dari itu penting untuk melakukan perawatan sebelum mobil dipakai mudik atau perjalanan jauh,” ucap Jayan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang