Pemerintah menyiapkan transisi mandatori biodiesel dari B40 menuju B50 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan implementasi mandatori biodiesel terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, realisasi pemanfaatan biodiesel tercatat 9,3 juta kiloliter melalui program B30. Angka tersebut naik menjadi 10,4 juta kiloliter pada 2022, kemudian 12,3 juta kiloliter pada 2023, dan 13,2 juta kiloliter pada 2024 seiring penerapan B35. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1/2026). Memasuki 2025, pemerintah resmi menjalankan mandatori B40. Hingga Desember 2025, realisasi pemanfaatannya untuk untuk kebutuhan domestik mencapai 14,2 juta kiloliter, atau 105,2 persen dari target sebesar 13,5 juta kiloliter. Capaian tersebut turut berkontribusi menekan impor solar hingga sekitar 3,3 juta kiloliter. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, peningkatan mandatori biodiesel yang dibarengi penguatan kapasitas kilang, termasuk beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, telah membawa Indonesia pada kondisi surplus pasokan solar. “Dengan produksi sekarang di Pertamina, termasuk RDMP Balikpapan, akumulasi konsumsi B40 totalnya membuat kita surplus kurang lebih 1,4 juta kiloliter,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip Sabtu (24/1/2026). Menurut Bahlil, Kementerian ESDM saat ini tengah melakukan uji bahan bakar biodiesel dengan kadar campuran yang lebih tinggi guna memastikan kesiapan dari sisi teknis, keekonomian, serta infrastruktur pendukung sebelum transisi ke B50. Uji coba B40 Pengembangan biodiesel tersebut menjadi bagian dari roadmap jangka panjang pemerintah untuk mengurangi impor BBM. Dengan kondisi surplus pasokan solar, pemerintah menargetkan Indonesia tidak lagi mengimpor solar mulai 2026. Selain solar, pemerintah juga menyiapkan strategi untuk menghentikan impor bensin beroktan menengah dan tinggi pada 2027, serta menekan impor avtur melalui optimalisasi produksi dalam negeri. “Sekarang kami bersama Pertamina bekerja keras agar kelebihan solar sekitar 1,4 juta kiloliter ini bisa dikonversi menjadi bahan baku untuk membangun avtur, sehingga pada 2027 kita benar-benar tidak impor lagi,” kata Bahlil. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang