Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan solar bersubsidi di sejumlah SPBU dinilai mulai berdampak terhadap operasional angkutan umum dan logistik di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya terjadi di daerah seperti Sumatera dan Sulawesi, tetapi juga mulai dirasakan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Panjangnya antrean diduga dipicu oleh meningkatnya jumlah pengguna yang beralih dari Dexlite ke Biosolar bersubsidi. Ilustrasi SPBU Pertamina. Dexlite. Harga Dexlite. Harga Dexlite terbaru. Harga Dexlite Juni 2026. Harga Dexlite Pertamina. Harga BBM Dexlite. Harga Dexlite 1 Juli 2026. Harga Dexlite hari ini. Selisih harga yang cukup jauh menjadi salah satu penyebabnya. Saat ini, harga Biosolar dipatok Rp 6.800 per liter, sedangkan Dexlite mencapai Rp 19.700 per liter. Sekretaris Jenderal DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda), Kurnia Lesani Adnan, mengatakan dampak antrean BBM subsidi tidak lagi sekadar mengganggu operasional, tetapi juga telah memakan korban jiwa. "Antrean BBM di SPBU sudah makan korban 1 orang pengemudi meninggal dunia pada saat menganti BBM di SPBU daerah Banyuasin, Sumatera Selatan pada tanggal 6 juli 2026,” ujar Sani, dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026). Penerapan Biosolar B50 “Harusnya menjadi perhatian pemerintah akan permasalahan kelangkaan bbm subsidi di daerah-daerah seluruh Indonesia," kata dia. Menurutnya, meninggalnya pengemudi tersebut memang merupakan takdir. Namun, ia menilai situasi yang mengharuskan pengemudi mengantre BBM selama berjam-jam hingga semalaman seharusnya tidak terjadi. Antrean kendaraan mengisi Biosolar mengular hingga keluar area SPBU di Jalan Dr. Sutomo, Padang, Senin (20/4/2026). Lonjakan terjadi setelah kenaikan harga BBM non-subsidi mendorong pengguna beralih ke solar. Jadwal Angkutan dan Perawatan Terganggu Kurnia menjelaskan, antrean panjang membuat banyak pengemudi mengalami kelelahan karena waktu istirahat mereka berkurang. Kondisi ini dikhawatirkan meningkatkan risiko kecelakaan di jalan. "Para pengemudi atau awak kendaraan harus mengantri BBM berjam-jam bahkan semalaman di SPBU pertamina. Ini juga yang bisa dijadikan alasan oknum pada saat kecelakaan, 'kelelahan karena antre BBM berjam jam bahkan semalaman menyebabkan kurang istirahat'," ujarnya. Selain itu, jadwal perawatan armada juga ikut terganggu karena kendaraan harus segera kembali beroperasi untuk melayani pelanggan. - Petugas Terminal Purboyo Madiun melakukan ramp check untuk armada bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) setiap harinya menghadapi masa angkutan lebaran 2026. Selain itu, petugas juga memeriksa kelayakan kendaraan (uji KIR), izin trayek, SIM pengemudi, hingga STNK. Kurnia juga menyoroti keluhan penumpang bus yang ramai beredar di media sosial. Menurutnya, ada penumpang yang mengeluhkan keterlambatan keberangkatan karena armada masih mengantre pengisian BBM. Bahkan, ada kendaraan yang sudah tiba di dispenser SPBU, tetapi tidak dapat mengisi karena stok BBM telah habis. Ia juga mengungkapkan masih ditemukan SPBU yang membatasi pembelian Biosolar di bawah kuota barcode dengan alasan pasokan yang diterima terbatas. Ilustrasi barcode Pertamina untuk beli Biosolar. Cara daftar barcode Biosolar Pertamina. Daftar barcode Pertamina Biosolar online. Organda menilai persoalan ini belum ditangani secara optimal. Kurnia mengatakan hingga kini belum ada kepastian penyelesaian terkait distribusi BBM subsidi di lapangan. "Kami sangat menyayangkan sampai saat ini stakeholder (Pertamina Patra Niaga dan BPH Migas) hanya saling menghindar dari permasalahan pokok 'tersendatnya suplai BBM di lapangan'," ujarnya. Ia juga menilai belum ada kejelasan sikap pemerintah dalam mengatasi persoalan tersebut. Sebagai solusi, Organda mengusulkan agar sistem barcode pembelian BBM subsidi diubah menjadi barcode dinamis. Sistem ini diharapkan hanya diberikan kepada angkutan umum yang memenuhi persyaratan administrasi, seperti STNK, KIR, dan izin operasi yang masih berlaku. Ilustrasi pembelian BBM subsidi, barcode BBM subsidi. Cara daftar barcode BBM subsidi. Cara bikin barcode BBM subsidi. Subsidi Tepat. Sopir Jadi Pihak yang Paling Terdampak Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, menilai sopir dan kru angkutan umum maupun angkutan barang menjadi kelompok yang paling merasakan dampak dari persoalan antrean BBM subsidi yang terjadi di berbagai daerah. Menurut dia, para pengemudi berada di posisi paling rentan karena harus tetap memenuhi target operasional di tengah waktu tunggu yang semakin panjang untuk mendapatkan bahan bakar. "Sopir angkutan barang sering kali menjadi korban paling rentan dalam ekosistem ini," ujar dia. Sopir saling berbagi makanan di tengah antrean kemacetan Pelabuhan Ketapang Djoko menjelaskan, kondisi tersebut diperparah oleh pola kerja yang selama ini diterapkan di sektor angkutan. Banyak pengemudi bekerja melebihi batas waktu kerja yang ideal, sementara sistem pengupahan yang digunakan masih berbasis borongan sehingga pendapatan sangat bergantung pada jumlah perjalanan yang dapat diselesaikan. "Mereka kerap bekerja melebihi jam kerja manusiawi (kelelahan/fatigue), tanpa sistem upah yang layak (sering kali menggunakan sistem borongan)," kata Djoko. SPBU di kawasan Candi Sidoarjo kehabisan stok solar, Kamis (25/6/2026) Akibatnya, antrean panjang di SPBU tidak hanya mengurangi waktu produktif, tetapi juga memangkas waktu istirahat pengemudi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kelelahan saat berkendara, mengganggu ketepatan jadwal operasional angkutan, hingga berdampak pada aspek keselamatan lalu lintas. Menurut Djoko, persoalan distribusi BBM subsidi tidak hanya berkaitan dengan kelancaran pasokan energi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan sektor transportasi yang bergantung pada ketepatan waktu dan keselamatan kerja para pengemudi.