PT Jetour Sales Indonesia belum akan memasarkan mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) dalam waktu dekat. Meski telah memperkenalkan dua model listrik, yakni X20e dan X50e, pada tahun lalu, perusahaan menilai kondisi pasar Indonesia saat ini masih lebih sesuai untuk kendaraan elektrifikasi berbasis plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Strategi tersebut diambil setelah Jetour melakukan riset internal serta melihat respons konsumen terhadap kendaraan elektrifikasi di Tanah Air. Menurut perusahaan, masih ada sejumlah faktor yang membuat masyarakat belum sepenuhnya beralih ke mobil listrik murni. Direktur Pemasaran PT Jetour Sales Indonesia Moch Ranggy Radiansyah mengatakan, tahun lalu pihaknya memang sempat memamerkan dua mobil listrik berbasis baterai, yaitu X20e dan X50e. Jetour Indonesia akhirnya mengungkap detail interior calon mobil listrik X50e yang rencananya bakal meluncur di Indonesia. "Tapi, kita dari penelitian internal dan dari penerimaan pasar pun kita mulai dengan ICE, dan kita lihat ada permintaan untuk elektrifikasi. Tapi, saya bilang masih banyak kekhawatiran, jadi kita bridging dengan T2 i-DM," ujar Ranggy, kepada wartawan, saat ditemui di booth-nya, Rabu (29/7/2026). Sebagai jembatan menuju elektrifikasi penuh, Jetour memilih menghadirkan T2 i-DM yang mengusung teknologi plug-in hybrid. Model ini dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen yang ingin merasakan manfaat kendaraan elektrifikasi tanpa sepenuhnya bergantung pada pengisian daya baterai. Siap Hadirkan BEV, tetapi Tunggu Momentum Meski demikian, Ranggy menegaskan bahwa secara global Jetour telah memiliki portofolio lengkap, mulai dari kendaraan bermesin konvensional (ICE), plug-in hybrid (PHEV), hingga mobil listrik murni (BEV). Namun, untuk pasar Indonesia, prioritas perusahaan saat ini masih berada pada kendaraan PHEV. Jetour T2 i-DM "Secara global, Jetour siap untuk ICE, untuk PHEV, dan juga BEV, nantinya secara line-up produk. Tapi, yang pasti untuk saat ini kita fokusnya di PHEV," kata Ranggy. Menurut Ranggy, salah satu alasan utama belum dipasarkannya mobil listrik murni adalah kekhawatiran konsumen terhadap infrastruktur pendukung. Ketersediaan stasiun pengisian daya yang belum merata masih menjadi pertimbangan banyak calon pembeli sebelum beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai. Kondisi tersebut membuat Jetour memilih langkah yang lebih bertahap dalam menghadirkan produk elektrifikasi di Indonesia. Dengan mengandalkan teknologi plug-in hybrid, perusahaan berharap dapat menjawab kebutuhan konsumen saat ini sekaligus mempersiapkan pasar menuju adopsi kendaraan listrik murni pada masa mendatang.