Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan, Edo Rusyanto (berdiri) Perjalanan mudik Lebaran identik dengan jarak tempuh yang panjang dan waktu berkendara berjam-jam tanpa henti. Kondisi tersebut sering membuat pengemudi memaksakan diri tetap mengemudi meski tubuh sudah lelah. Padahal, kelelahan menjadi salah satu faktor yang dapat memicu kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Ketika tubuh mulai kehilangan konsentrasi, kemampuan pengemudi untuk mengantisipasi situasi di jalan akan menurun secara signifikan. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), Edo Rusyanto, mengatakan bahwa faktor manusia masih menjadi penyebab dominan kecelakaan lalu lintas. Karena itu, kesadaran pengemudi untuk menjaga kondisi tubuh selama perjalanan sangat penting.“Kita tahu bahwa faktor manusia merupakan pemicu kecelakaan lalu lintas jalan yang dominan. Karena itu, para pemudik perlu meningkatkan kesadaran berlalu lintas yang rendah risiko guna memangkas fatalitas kecelakaan di jalan,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif Selasa 10 Maret 2026.Menurutnya, keselamatan perjalanan mudik tidak hanya bergantung pada kondisi kendaraan atau infrastruktur jalan. Partisipasi publik, khususnya pengemudi, menjadi faktor penting dalam menekan angka kecelakaan saat arus mudik.Ia menambahkan bahwa pemudik perlu mempersiapkan perjalanan dengan baik sebelum berangkat. Persiapan tersebut meliputi kondisi fisik yang prima, manajemen perjalanan, hingga disiplin beristirahat selama perjalanan.“Pemudik perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum bepergian dan secara disiplin beristirahat guna menjaga kebugaran sebagai bekal senantiasa berkonsentrasi saat berkendara,” kata Edo.Data dari Operasi Ketupat Korlantas Polri pada 2025 menunjukkan bahwa angka kecelakaan selama periode mudik mengalami penurunan. Pada periode tersebut tercatat 3.181 kasus kecelakaan dengan 787 korban meninggal dunia.Penurunan angka tersebut dinilai tidak lepas dari berbagai upaya peningkatan keselamatan di jalan raya. Selain sinergi berbagai pemangku kepentingan, meningkatnya kesadaran masyarakat juga dinilai berperan dalam menekan fatalitas kecelakaan.Senior Trainer Global Defensive Driving Consulting (GDDC), Lilik Andi Baryono, menjelaskan bahwa kecelakaan sering kali terjadi karena pengemudi gagal mengantisipasi situasi di jalan. Kondisi tersebut kerap dipicu oleh rasa lelah yang membuat konsentrasi menurun.“Karena itu, kecelakaan harus dicegah. Kita tahu, penyebab umum kecelakaan adalah soal gagalnya antisipasi saat berkendara,” ujar Lilik.Ia menegaskan bahwa kelelahan saat berkendara dapat mengurangi kemampuan pengemudi dalam mengambil keputusan dengan cepat. Reaksi terhadap kendaraan lain, kondisi jalan, atau potensi bahaya menjadi lebih lambat. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Untuk menghindari kondisi tersebut, pengemudi disarankan beristirahat secara berkala selama perjalanan. Waktu istirahat sekitar 15 hingga 20 menit setiap dua jam berkendara dinilai cukup untuk memulihkan fokus.“Pengemudi harus beristirahat berkisar 15–20 menit setiap dua jam berkendara. Selain itu, hindari konsumsi kafein berlebih dan perbanyak konsumsi air putih,” tutur Lilik.