Kecelakaan kereta api terjadi di Bekasi, Jawa Barat. Kecelakaan diduga bermula ketika ada kereta commuter line menabrak taksi hijau Green SM di perlintasan kereta api di sekitar Bulak Kapal, Bekasi Timur.Akibat kecelakaan itu, kereta commuter line lainnya tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Nahas, kereta commuter line yang tertahan di Stasiun Bekasi Timur itu ditabrak Kereta Argo Bromo."Kejadian ini di jam 9 kurang, dimulai dengan adanya temperan taksi hijau, di JPL 85. Ini yang kami curigai membuat sistem perkeretaapian di daerah emplasemen Stasiun Bekasi Timur ini agak terganggu, sementara itu kronologinya," ujar Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin dalam keterangan video dari Kementerian Perhubungan, Selasa (28/4/2026). "Tentunya kami menyerahkan kepada KNKT untuk lebih detail mencari tahu penyebab dari kecelakaan kereta ini," sambung Bobby.Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, di tahun 2026 tercatat sebanyak 40 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang. Mayoritas insiden (57,5 persen) terjadi di perlintasan tanpa palang pintu sebanyak 23 kejadian, sementara 17 kejadian lainnya (42,5 persen) terjadi di perlintasan berpalang pintu."Perlintasan sebidang bukan sekedar persimpangan. Tingginya intensitas lalu lintas, keterbatasan perlengkapan keselamatan, serta rendahnya kepatuhan pengguna jalan, kerap menjadi penyebab terjadinya kecelakaan di perlintasan sebidang," kata Djoko dalam keterangan tertulisnya.Menurut Djoko, ada beberapa pemicu utama kecelakaan di perlintasan kereta api sebidang. Ada yang karena pengendara menerobos palang perlintasan, sampai kasus mogok di tengah perintasan kereta."Pemicu utama kecelakaan didominasi oleh perilaku pengendara yang menerobos (34 kasus), diikuti kendaraan mogok (4 kasus), dan keterlambatan penutupan palang pintu (3 kasus). Dampak kecelakaan ini sangat fatal, merenggut 25 nyawa (61 persen), serta menyebabkan 5 luka berat (12 persen) dan 11 luka ringan (27 persen). Adapun kendaraan yang terlibat meliputi 22 mobil (55 persen) dan 18 sepeda motor (45 persen)," kata Djoko yang juga menjadi Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).Selain itu, kata Djoko, ada beberapa penyebab kejadian kendaraan berhenti di tengah perlintasan kereta api. Ada yang karena mogok, sampai roda tersangkut."Sebagai penyebab kejadian mogok di perlintasan adalah (1) mobil berhenti mati mesin di perlintasan, (2) roda ban belakang motor tersangkut karena membawa beban bawaan berat dagangan, seperti ayam, (3) mobil mengalami gangguan mesin saat berada di tengah rel, dan (4) truk lowdeck tersangkut karena elevasi gradien di perlintasan tidak sesuai dengan truk. Dampak kendaraan di perlintasan berakibat lendutan yang bisa membahayakan perjalanan kereta api. Dapat disebabkan tiga hal, yaitu beban dinamis, kelelahan material, dan amblesnya fondasi rel," sebut akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata itu.Meski begitu, Djoko menegaskan masih menunggu hasil investigasi dari KNKT terkait kecelakaan yang terjadi di Bekasi Timur. Menurutnya, keselamatan transportasi adalah hal mutlak yang harus diprioritaskan.Keselamatan transportasi adalah investasi jangka panjang, bukan beban biaya (cost). Perkeretaapian tidak sekarang membangun, keselamatan jangan dilupakan," kata Djoko kepada detikOto, Selasa (28/4/2026).