Insiden taksi listrik yang tertabrak KRL Commuterline di perlintasan Bekasi Timur menyoroti satu hal penting di balik teknologi kendaraan modern, yakni kesiapan pengemudi. Di tengah sorotan pada sistem mobil listrik (EV), faktor human error justru dinilai berperan besar dalam kejadian tersebut. Mahaendra Gofar, Sustainability Mobility Expert dan Co-Founder EVSafe Indonesia, menilai, dari rekaman video yang beredar, kendaraan sebenarnya masih memiliki daya saat berhenti di tengah rel. “Dari videonya, sebetulnya masih ada power di situ. Lampunya masih nyala, artinya sistemnya masih berfungsi,” ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (1/5/2026). Menurut dia, kondisi itu menunjukkan mobil tidak sepenuhnya mati total. Artinya, secara teknis kendaraan masih memiliki peluang untuk dipindahkan dari lintasan, salah satunya dengan memanfaatkan mode khusus pada mobil listrik. Kondisi taksi Green yang mengalami kecelakan belum dievakuasi, Selasa (28/4/2026). Apa Itu Green SM? Taksi Listrik Vietnam yang Jadi Sorotan “Mobil listrik bisa didorong, asal bisa masuk ke posisi netral. Di mobil EV ada yang namanya towing mode atau mode derek supaya bisa didorong,” kata Gofar. Namun, ia menduga pengemudi tidak memahami cara mengoperasikan fitur tersebut. Padahal, dalam situasi darurat seperti di perlintasan kereta, kecepatan mengambil keputusan menjadi sangat krusial. “Kemungkinan pengemudi tidak tahu cara memasukkan ke netral atau mode derek. Seharusnya kalau masih hidup, bisa dimasukkan ke mode itu supaya bisa didorong,” ucapnya. Faktor pengalaman pengemudi pun ikut disorot. Berdasarkan keterangan kepolisian, sopir taksi tersebut diketahui masih tergolong baru dan minim pelatihan. Sopir taksi Green SM berinisial RRP diketahui baru menjalani pembekalan singkat setelah tiga hari bekerja, sebelum terlibat kecelakaan dengan KRL Commuterline di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). “Ini (sopir taksi) baru pengenalan (pelatihan) dasar itu dilakukan satu hari,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, dikutip dari Kompas.com. Gofar menilai, kondisi ini menjadi catatan penting bagi operator kendaraan niaga listrik. Pasalnya, kendaraan listrik memiliki karakter berbeda dibanding mobil konvensional, terutama dalam hal pengoperasian saat darurat. “Pengguna EV harus paham cara operasional, termasuk bagaimana menetralkan mobil. Kalau tidak, fitur yang seharusnya membantu justru tidak bisa dimanfaatkan,” katanya. Ia menambahkan, semakin canggih teknologi kendaraan, semakin tinggi pula kebutuhan literasi pengemudi. Tanpa pemahaman yang memadai, risiko di lapangan tetap bisa terjadi, bahkan dalam situasi yang seharusnya masih bisa diantisipasi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang